Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Jogja!

14 Juni 1994, pagi subuh pukul 2.

Aku menginjakkan kaki di terminal Umbulharjo. Aku mencium bau Jogja yang kukenal, bau yang ramah di hidung dan ingatanku. Sederhana saja kepergianku ke Jogja. Bukankah tidak perlu karnaval keramaian untuk setiap kepergian? Pada tahun 1992, sekolahku mengadakan kegiatan study tour ke Jogja. Sialnya hanya ke Jogja, kalau saat itu study tour ke Bali atau ke Paris, tentu pagi itu, aku sedang nongkrong di Kuta atau sedang ngopi sambil menikmati rokok di bawah menara Eifel….heheheeh. Meski begitu, Jogja tetap sesuatu yang harus kusyukuri.

Aku masih ingat percakapanku dengan ayah beberapa hari sebelum berangkat ke Jogja. Saat itu aku baru beberapa hari pulang ke rumah, menikmati masa-masa menjadi pengangguran baru, setelah menamatkan sma di kota Kepanjen, kota yang berjarak kurang lebih 30km dari tanah kelahiranku yang jauh dari keramaian.

“Apa yang akan kaulakukan?” tanya ayah saat itu.

“Aku tidak tahu,” jawabku

“Sebaiknya kau kuliah. Nanti kakakmu yang akan membantu biaya kuliah,” kata ayah lagi.

“Tidak, aku tidak akan kuliah kalau aku tidak bisa membiayai hidupku sendiri,” kataku pongah.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku akan pergi ke Jogja.”

“Untuk apa?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku ingin pergi ke Jogja.”

Ayah terdiam mendengar jawabanku. Ayah adalah kesunyian tiada bertepi. Ayah biasa duduk berjam-jam dalam dekapan sepi. Entah apa yang dipikirkannya. Ayah begitu diam  dan sering tidak terduga. Beda sekali dengan ibu. Ibu adalah sosok yang terus bergerak. Di rumah, saat aku terbangun di pagi hari, ibu pasti sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan masakan bagi warung kecil yang dikelolanya. Denting peralatan dapur yang dihasilkan tangan terampil ibu masih tertinggal dalam ingatanku sampai hari ini. Aku seperti mendengar konser agung saat terjaga dari tidur di setiap pagi. Dari ibu, aku belajar kerja keras, dari ayah, aku belajar mencintai keheningan. Sementara di jalan-jalan kota Kepanjen –dan kelak di Malioboro-, aku belajar survival, belajar cara bertahan  hidup.

Beberapa hari kemudian, saat melihat aku tidak berubah dengan keinginanku, ayah mendekatiku.

“Pergilah ke Jogja, jadilah seperti yang kau ingini,” kata ayah pendek.

Begitulah, satu minggu setelah kelulusan, aku mengepak rangsel, meloncat ke angkutan pedesaan, berlari ke barat, mengejar matahari dan terdampar di terminal Umbulharjo di pagi buta dalam gigil sepi. Setelah berhasil menghindari sergapan tukang becak yang menawarkan jasa, aku berjalan kaki dari terminal Umbulharjo sampai ke Alun-alun Utara. Sebuah jarak yang lumayan jauh. itu baru kusadari setelah beberapa lama aku tinggal di jogja. Aku menghabiskan malam itu di serambi masjid gedhe.

Paginya, aku pergi ke alun-alun utara, saat itu mau ada perayaan sekaten, aku memperhatikan orang-orang yang sedang membangun los jualan sekaten, saat itu seorang anak muda menawariku guci gerabah. Guci itu biasanya jadi souvenir, oleh-oleh dari khas Jogja.

Aku menolak membeli gucinya, aku malah mengajaknya ngobrol. Di bawah terik udara Jogja yang menyengat, di bawah kanopi pohon beringin, anak muda itu bercerita tentang hidupnya, tentang pekerjaannya, dan juga tentang kedatanganku di Jogja. Diakhir percakapan kami, aku bertanya padanya, “Bolehkah aku ikut jualan guci?”

“Nanti, aku kenalkan sama pemilik guci, biar kamu boleh jualan guci,” katanya.

Besoknya, aku jualan guci gerabah tanpa berpikir dua kali. Hidup harus terus dipertahankan, dijaga, termasuk menjaga  kepercayaan ayah yang membiarkan aku pergi ke Jogja untuk bersahabat dengan ketidakpastian. Saat sekaten mulai, berkat pertemuanku dengan teman semasa sma yang kuliah di Jogja, aku ikut berjualan di pasar malam sekaten. Aku akhirnya numpang di teman tersebut selama tiga bulan, sebelum aku diusir pergi karena nggak pernah bayar. Kemudian aku mengambil kost sempit di Kauman dengan harga perbulannya 12.500 juga berkat seorang kawan. Kawan-kawan yang kukenal sepanjang perjalanan hidupku itulah yang banyak membantuku, bahkan sampai sekarang. Tanpa mereka, aku tidak akan menjadi seperti hari ini. Aku berhutang budi pada mereka.

Dua sampai tiga tahun pertama tinggal di Jogja, aku banyak sekali berganti kerja sekedar untuk mempertahankan hidup. Berawal dari jual guci, kemudian jual souvenir saat sekalten, jadi loper koran, jualan serbet dan bh keliling di pasar-pasar tradisional seputar Jogja. Saat itu, aku hapal semua hari-hari pasaran tradisional dalam hitungan Jawa, misalnya pasaran pon, aku harus jualan di pasar Godean dan pasar-pasar lain.

Ada peristiwa yang tidak pernah kulupakan saat jualan serbet di pasar Muntilan. Pagi itu, seorang ibu bersama anak perempuannya mendekati daganganku. Manis juga gadis itu, bathinku saat melihatnya.

“Berapa harga bh-nya, Mas?” tanya ibu itu padaku.

“3000,” jawabku.

“Bh molor kayak gini 3000, 1500 kalau boleh?”

Aku membeli satu lusin bh dari pasar Klewer Solo seharga 7500, jadi tidak masalah bh kulepas dengan harga 1500. Aku mengiyakan penawaran ibu itu.

Dia kemudian menoleh pada gadis di sampingnya, “Berapa ukuranmu?”

Wajah gadis itu memerah, dia menunduk

“Berapa ukuranmu?” ulang si ibu.

Gadis itu menunduk semakin dalam. Dia tak berani menjawab.

Tidak sabar, si ibu mengambil sebuah bh dari tumpukan dan menempelkan ke dada gadis itu. Kekecilan, dia mengambil lagi dan menempelkan ke dada si gadis, begitu berulang-ulang. Pakaian gadis itu basah oleh keringat, wajahnya benar-benar merah seperti kepiting rebus. Aku menahan tawa melihat itu, tapi juga merasa kasihan pada gadis itu. Di tengah keramaian pasar, dia menahan malu sendirian.

Saat bh yang dicarinya cocok, si ibu melihat ukurannya, “34 b,” suaranya masih sedikit menyimpan kejengkelan.

Setelah membayar, ibu itu menyeret anaknya pergi masih dengan kepalan tertunduk.

“34 b,”  seorang teman pedagang yang sejak tadi memperhatikan itu nyeletuk sambil tertawa ngakak. Aku ikut tertawa, aku ingat wajah gadis itu yang merah seperti kepiting rebus. Semakin manis saja gadis itu kalau lagi malu-malu begitu, kataku dalam hati…..heheeh

Selain itu, aku juga pernah kerja di industri kerajinan di Prambanan. Sejak awal datang ke tempat itu, aku ingin hanya untuk belajar, tidak lebih dari itu. Karena itu aku mengatakan pada pemiliknya juga untuk belajar. Home industri itu memproduksi miniature dari kayu seperti Harley Davidson, mobil VW, kereta api dan banyak lagi yang lain.

Selepas kerja, setelah jam empat, biasanya teman-teman istirahat, tapi aku tidak. Aku belajar memotong kayu, belajar menggunakan mesin bubut, belajar menggunakan gergaji mesin. Suatu sore, aku menghabiskan satu mobil pickup kayu untuk belajar. Karena masih belajar, presisi pemotongan yang kulakukan buruk, teman-teman ngamuk-ngamuk karena kayu yang kugunakan belajar merupakan kayu yang harus dipakai produksi keesokan harinya. Aku kemudian menemui bos pemilik kerajinan.

“Mas, kayu yang mau dipakai produksi besok rusak semua,” kataku padanya.

“Kok bisa?”

“Aku pakai untuk belajar memotong,” kataku jujur.

Dia terdiam sejenak, kemudian menarik napas panjang, “Kalau dipakai untuk belajar yang gak papa. Besok pagi-pagi kita ambil kayu lagi,” katanya enteng.

Aku menemui teman-teman yang tadi marah-marah sambil tertawa lebar. Aku minta mereka bertanya sama si bos, kalau yang kulakukan nggak papa. Teman-teman hanya pasrah saja mendengar jawabanku. Aku bertahan di industi kerajinan itu hanya kurang lebih dua bulan. Begitu aku sudah bisa mengoperasikan semua alat, aku pamit pada pemilik kerajinan. Dia tersenyum dan melepasku pergi dengan lapang, bahkan dia merekomendasikan untuk belajar cetak di Kota Gedhe, Jogja.

Satu hal yang tidak pernah kutinggalkan disela  semua pekerjaan yang kulakukan adalah menulis. Aku boleh bekerja apa saja untuk mempertahankan hidup, tapi aku tidak boleh meninggalkan menulis. Sebab menulis memberi keseimbangan hidup padaku. Karena itu tidak perlu heran, kalau setiap malam mesin ketik di kamar kostku menghentak-hentak tidak pernah lelah. Tetangga kostku hapal itu, kalau semalam saja dia tidak mendengarkan bunyi mesin ketik, dia akan bertanya, “Semalam tidak di kost ya? Kok aku tidak mendengar bunyi mesin ketiknya?”

Aku tertawa.

“Kalau tidak dengar suara mesin tik, saat malam saya saya takut di rumah. Sepi sekali rasanya.”

Aku tertawa semakin keras. Ternyata berguna juga suara mesin ketikku yang berisik………….

Balada Si Roy

“Siapa penulis favoritmu?” tanya seorang teman.

“Gola Gong, Seno Gumara Adjidarma, dan Pramoedya Ananta Toer.” Jawabku. Bolehkan penulis favorit lebih dari satu? Menurutku mereka semua mewakili jamannya masing-masing.

“Gola Gong?” keningnya berkerut.

Tentu saja itu nama yang asing.  Gola Gong muncul diakhir tahun 80-an dengan Balada si Roy-nya, hampir berbarengan dengan Lupus karya Hilman yang membuat tren model rambut jambul dan permen karet di kalangan remaja. Aku tidak menyukai Lupus, bukan karena cerita itu tidak menarik. Mungkin karena aku tidak mengenal kondisi sosial yang ke-jakarta-an yang diceritakan Hilman dan itu tidak sesuai dengan kondisi kejiwaanku. Aku lahir di kampung terpencil yang jauh dari kerlip kehidupan kota dan tidak mengenal bahasa lu dan gue. Bahasa itu terasa aneh dan asing di telingaku, bahkan sampai sekarang. Ketika teman-temanku tertawa ngakak membaca Lupus, aku bingung bagian mana yang lucu yang bisa membuat tertawa. Sebagai sebuah cerita humor, Hilman berhasil karena bisa bikin ketawa. Menurutku cerita humor paling sulit dibuat. Cerita humor punya ukuran yang jelas; pembaca tertawa! Itu berarti cerita tersebut berhasil, kalau tidak berarti gagal. Sesederhana itu, tapi tingkat kesulitannya besar.

Kulewati Hilman tanpa kesan yang dalam. Beda dengan Roy. Dia adalah anak muda yang berontak terhadap lingkungan sekitarnya. Lelaki gelisah itu Roy. Lelaki yang penuh kemarahan. Lelaki yang terus mencari dalam hidupnya. Aku menemukan Roy pertama kali di majalah Hai. Roy dimuat bersambung di majalah tersebut. Karena aku tidak pernah langganan majalah tersebut, aku mengikuti Roy sepotong-sepotong. Kadang dari koleksi milik perpustakaan, tapi tidak jarang dari loakan yang kutemukan terselip diantara besi bekas. Kelak, saat pergi ke loakan buku bekas dan menemukan Roy, aku segera memunggutnya dan membawa pulang. Tapi tetap saja sampai sekarang koleksi Roy-ku belum lengkap, meski aku sudah membaca keseluruhan kisahnya. Meski sekarang Roy diterbitkan ulang, aku tak pernah mencoba mencari yang baru untuk melengkapi koleksiku. Bagiku Roy yang kucel yang kutemukan di loakan, di sela tumpukan besi bekas, jauh jauh lebih menggoda dari pada yang baru. Aku mencium bau perjalanan di situ, bau kegelisahan.

Roy mewakili kegelisahan anak muda yang mencoba mencari jati diri. Roy mempertanyakan dirinya. Roy mempertanyakan Tuhan. Dalam pola yang paling sederhana Roy menampilkan sebentuk religiusitas yang khas anak muda. Anak muda yang hidup awut-awutan, bergaul dengan obat, terbiasa dengan segala macam kekerasan untuk menunjukkan eksistensi dirinya yang kadang ngawur dan belajar untuk menjadi baik. Perjalanan yang ditempuh Roy merupakan manifestasi perjalanan gelisah anak muda. Sang Alkemis karya Poulo Ceolho yang monumental juga bisa menggambarkan religiusitas dengan cara yang sederhana dan indah tanpa perlu menyebut jorgan-jorgan agama yang ndakik-ndakik.

Tidak perlu menganti selamat pagi dengan asslamualaikum atau menempelkan ayat dalam cerita untuk menulis cerita religi. Ada banyak cara untuk menulis cerita yang membangkitkan kesadaran akan Tuhan.

Aku memahami religiusitas sesederhana itu. Sesederhana aku menjadi hidup. Yang terpenting esensi. Karena itu Roy tidak pernah tergerus dalam ingatanku. Memang sebagai sebuah karya sastra, wajar kalau tidak sedikit orang menafsirkan Roy dengan cara sebaliknya dan itu sah-sah saja. Bagaimana orang menafsirkan Roy tergantung tingkat pengetahuan dan pengalaman masing-masing pembaca.

Pada awal jejak penulisan Gola Gong, aku selalu mengikuti dengan baik. Gola Gong menampilkan sebentuk kegelisahan anak muda yang mungkin sekarang juga masih sama; proses pencarian anak muda terhadap jati diri. Untuk menemukan kebenaran sejati anak muda harus terus bertanya, harus terus gelisah, harus terus mencari. Bukankah lebih baik terus bertanya, terus gelisah, terus mencari Tuhan dari pada diam dan tinggal dalam kejumudan? Dengan bertanya, dengan gelisah anak muda bisa menyibakkan kabut dan menyongsong fajar pagi.

Tapi aku berhenti membaca Gola Gong ketika dia mulai menulis cerita islami, tapi aku tidak pernah berhenti membaca Roy, membaca realitas sosial, membaca daun-daun dan debu yang beterbangan di jalan.

 

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop Penulisan Seknas PEKKA

Workshop PPSW Jakarta

Workshop PPSW Jakarta

Workshop PPSW Jakarta

Workshop PPSW Jakarta

Workshop PPSW Jakarta

Workshop PPSW Jakarta

Aku datang Jakarta.

Puluhan kali aku bolak-balik Jakarta-Jogja selama beberapa tahun ini, selalu kalimat itu yang berdengung di kepalaku. Jakarta, gemerlap kota metropolitan yang tidak pernah bisa kupahami. Jakarta kukenal hanya selintas perjalanan, dari setiap kedatangan yang tidak lengkap, dari media, dan dari obrolan ngalur-ngidul tak selesai bersama teman-teman di angkringan. Aku tidak pernah mengenal Jakarta dengan utuh, bahkan mungkin orang-orang yang tinggal di dalamnya juga tidak mengenal tempatnya berdiam dengan utuh.

Jakarta dulu pernah dikenal dengan sebutan Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, Jacatra, dan Djakarta tetap merupakan kota yang misterius. Rafles dalam buku History of Java menyebut kota yang terletak di bagian barat laut Pulau Jawa merupakan kota paling buruk di dunia. Secara geologis, kondisi tanah Jakarta lebih rendah dari laut sehingga banyak ditemukan rawa-rawa. Rawa-rawa ini menjadi sumber penyakit yang banyak menyerang penduduk masa itu. Tidak heran kalau pemerintah Hindia Belanda menerapkan konsep pembangunan Jakarta meniru kota Amsterdam yang juga berada dibawa permukaan laut dengan kanal-kanal besar yang mengatur lalulintas air. Kota lain di Indonesia yang dibangun mirip dengan Amsterdam adalah kota Semarang. Tetapi kedua kota itu mengalami nasib yang serupa. Jakarta malah lebih parah lagi, selain rob, Jakarta setiap tahun harus berhadapan dengan banjir, dan tentu saja yang paling khas dengan kota ini adalah macet. Ada apa dengan Jakarta? Kenapa konsep tata ruang kota yang diusung pemerintah Hindia Belanda tidak berhasil mengatasi masalah klasik di Jakarta? Bagaimana dengan penduduk penghuninya?

Kedatanganku ke Jakarta kali ini atas undangan Pusat Studi Pengembangan Wanita (PPSW) Jakarta, tapi bukan untuk mengatasi banjir dan macet. Sama sekali tidak. Tapi setidaknya kedatanganku menambahkan keping puzzle gambaran tentang Jakarta, meski mungkin tak akan pernah lengkap, setidaknya bayang sama-samar itu sedikit kelihatan.

PPSW sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di pendampingan perempuan, khususnya perempuan miskin. Ada beberapa PPSW  yang aku tahu; PPSW Sumatra, PPSW Jakarta, PPSW Pasundan, dan PPSW Borneo. Tapi semua PPSW itu berada dalam satu payung yayasan yang sama. Pada bulan Oktober 2010, PPSW Jakarta yang sedang punya gawe membuat workshop Penulisan untuk guru.

Pesertanya guru dan kader, ada guru sd, guru smp, ditambah kader koperasi, begitu kata Ibu Tri direktur PPSW Jakarta via telepon saat menghubungiku. Guru? Ingatanku langsung berlari ke Tual, Maluku Tenggara beberapa tahun lampau. Aku bersama beberapa teman pernah mengisi workshop penulisan di pulau kecil itu, pesertanya juga guru. Tapi pasti setiap tempat punya keunikan dan karakteristik tersendiri. Guru bukanlah orang yang tidak bisa menulis, setiap hari mereka melakukan aktifitas terkait tulis menulis. Kenapa harus diadakan workshop penulisan untuk guru? Aku terdiam memikirkan itu. Tapi  pasti ada tantangan tersendiri memberikan workshop penulisan pada guru karena secara teori guru memahami bahasa Indonesia dengan baik. Di tengah workshop video dokumenter yang sedang kami kerjakan di Jogja, Solo, dan Magelang, aku berangkat ke Jakarta.

Semangatku membuncah, selalu begitu setiap berhadapan dengan peserta workshop. Seperti saat sedang berhadapan dengan monitor waktu menulis, energi  mengalir deras. Seluruh energi semesta mengalir dan menggumpal dalam diriku. Itulah kenapa menulis buatku bukan sekedar kerajinan tangan, menulis memberi keseimbangan hidup dan mendekatkan aku dalam gigil sunyi pada Sang Maha Pencipta. Indah sekali.

Guru yang mengikuti workshop tidak banyak, pesertanya hanya 12 orang. Memang untuk sebuah workshop yang efektif, tidak diperlukan sekian ratus peserta. Ada beberapa hal menarik selama workshop berlangsung. Yang pertama, keraguan peserta, apa mungkin menulis dalam waktu 3 hari? Bagaimana teorinya? Meski sebagian besar guru sudah terbiasa dengan aktivitas yang terkait dengan menulis, tapi tidak ada yang meyakini bisa membuat tulisan panjang dalam waktu sependek itu. Yang kedua, fasilitatornya tidak meyakinkan hehehheh. Masih muda, gondrong lagi, apa bisa mengajari teori menulis dan mempraktekkannya secara langsung sehingga jadi sebuah tulisan di akhir workshop?

Masih segar dalam ingatanku keraguan-keraguan itu, seperti keraguan yang seringkali kutemui saat workshop. Aku tersenyum mendengarnya dan aku berjanji akan menjawab semua pertanyaan di akhir workshop. Menyenangkan berhadapan dengan keraguan seperti itu.

Selain hal yang tersebut di atas, ada catatan menarik lain, guru yang sudah terbiasa dengan fomalitas, seringkali terjebak menderetkan kegiatan yang diikuti tanpa memberikan kesan mendalam kenapa kegiatan tertentu menarik dan bisa menambah pengetahuan, khususnya terhadap skil atau kemampuan mereka dalam mengajar. Keinginan untuk menyelesaikan tulisan dengan cepat, membuat guru menulis ulang laporan dalam tulisan mereka. Mungkin karena beban pekerjaan yang penuh sesak sehingga membuat guru kurang berani mengekpresikan diri, termasuk menggali ulang ingatan yang bisa dijadikan pelajaran berharga untuk meningkatkan kapasitas dalam mengajar. Lantas apa peran dinas pendidikan bagi peningkatan kapasitas guru? Apa yang dilakukan otoritas paling berkuasa dalam bidang pendidikan di negeri ini kalau model-model pembelajaran yang menarik justru dimunculkan oleh lembaga swadaya masyarakat? Model pembelajaran interaktif, model pembelajaran dua arah selama ini efektif banyak digunakan di lembaga swadaya masyarakat. Ada apa dengan pendidikan kita? Kenapa kurikulum yang sering berganti bukan memudahkan, malah semakin membuat runyam dunia pendidikan kita? Kenapa anak didik yang seharusnya dilibatkan dalam upaya mencerdaskan mereka sendiri  cuma dijadikan obyek?

Di luar kerumitan pendidikan kita, kedatanganku ke Jakarta menambahkan keping puzzle tentang Jakarta. Bagaimana guru-guru yang menggajar di bantaran kali harus bersahabat dengan cemas, cemas dengan banjir yang menghantam sekolah mereka setiap tahun, cemas dengan kebakaran yang bisa terjadi kapan saja tanpa bisa bisa diduga. Ternyata, selama dua ratus tahun lebih, Jakarta tidak membaik. Jakarta tidak pernah berubah.

 

Menebar Harapan di Kawasan Pinggir Jakarta

Menebar Harapan di Kawasan Pinggir Jakarta

 

 

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

Workshop Menulis Pendidik Sebaya

foto by: ICBC Jogja

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Workshop Menullis Ibu-ibu Korban Gempa

Srikandi di Tanah Bencana

Srikandi di Tanah Bencana

foto by ICBC Jogja

Kaliurang basah, 2009

Aku sama Eka memacu motor mendaki Merapi yang masih diselimuti kabut tipis. Jalan raya membentang dihadapan kami seperti menunggu tidak sabar. Aku selalu merasakan sensasi menyenangkan setiap berangkat workshop.

Pukul sembilan lebih, kami mencapai hotel Kayu Manis. Nurma koordinator PS (Pendidik Sebaya), Mas Edo direktur ICBC dan seorang panitia menunggu kami di ruang pertemuan. Peserta sedang dalam perjalanan, mas, kata Nurma. Aku mengiyakan saja. Informasi yang kuetrima peserta akan datang bertahap. Sepagi ini, menikmati kopi, merokok dan menatap lanskap Jogja yang menawan. Alangkah nikmatnya.

ICBC, Institute for Community Behavioral Change, merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pendampingan masyarakat. Salah satu program ICBC adalah PS (pendidik sebaya). Program yang didanai oleh Ford Foundation menggambil fokus kerja melatih anak muda atau siswa sekolah tentang kesehatan reproduksi remaja. Anak muda atau siswa yang telah dilatih ini kemudian melakukan kampanye pada temen-temen sebayanya tentang kesehatan reproduksi.

Ada dua kelompok yang akan mengikuti workshop penulisan kali ini. Mereka adalah PS sekolah dan PS dusun. Kedua PS tersebut berada dalam wilayah Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Latar belakang dipilihnya sebagai lokasi pembentukan PS tidak lain karena tempat yang tersebut merupakan lokasi wisata. Banyak pendatang datang ke Cangkringan untuk piknik. Kebanyakan pendatang itu adalah anak-anak muda yang menghabiskan waktu untuk pacaran. Itu menjadi pemandangan kesehatian anak-anak muda Cangkringan dan itu ditenggarai memberi efek yang buruk. Munculnya khasus hamil di usia dini dan mengharuskannya berhenti sekolah bisa ditemukan di Cangkringan. Berangkat dari keprihatinan seperti itu ICBC menggagas PS di Cangkringan. PS belajar tentang kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, kekerasan dalam pacaran, dan bagaimana berpacaran sehat.

Pukul sepuluhan workshop dimulai, peserta pertama yang mengikuti workshop; PS dusun. Sedang PS seolah baru bisa datang jam dua siang, selepas mereka sekolah. Tantangan terbesar dari workshop menulis yang berlangsung selama dua hari satu malam itu adalah peserta datang tidak bersamaan. Fasilitator harus menggulang materi dasar setiap kali peserta baru datang. Kelas pun dipecah jadi dua. Kelas yang sudah menerima materi awal (PS dusun), meneruskan materi berikutnya bersama Eka, sedang aku harus mengulang materi pada peserta yang baru datang (PS sekolah). Efeknya materi tidak merata karena keterbatasan waktu, tentu saja akan berimbas pada hasil yang tidak maksimal.

Di luar proses workshop, ada hal lain yang menarik diperhatikan. Anak-anak muda ini memiliki kepedulian yang besar terhadap sesamanya. Dengan menjadi PS, mereka dengan suka rela menerima tanggung jawab besar untuk menyampaikan betapa pentingnya pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, HIV/AIDS dan lain-lain bagi remaja. Berbekal pengetahuan itu mereka turun langsung ke masyarakat dan berhadapan dengan konvensi sosial yang masih menabuhkan hal-hal yang berbau kesehatan reproduksi. Para PS ini, mereka adalah anak-anak muda yang punya keberanian.

Untuk yang satu ini, secara jujur aku harus angkat topi. Karena itu ada harapan yang terbersit dalam diriku, proses pelatihan PS tidak berhenti begitu saja, tapi terus dikembangkan, sehingga semakin banyak anak muda yang memahami betapa pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi agar kehamilan di usia dini lebih bisa diminimalisir. Memang itu bukan pekerjaan yang muda. Menjadi PS berarti melawan arus dan mencoba menahan gelombang dari serbuan teknologi yang membawa pengaruh buruk dan godaan live style anak muda perkotaan yang menawarkan kebebasan.

Jangan Denger Omongan Orang Tua

Jangan Denger Omongan Orang Tua

Pagi yang tidak biasa. Pengap merapat demikian cepat. Sepagi itu udara sudah menyengat demikian pekat. Jam sembilan kurang sepuluh menit, aku mampir sejenak ke tandabaca untuk menjemput Eka sebelum berangkat ke perpustakaan ICBC di dekat Paku Pakualaman. Jarak perpustakaan ICBC dengan tandabaca tidak terlalu jauh, hanya  sak udutan, hanya sebatang tarikan rokok, istilah orang Jawa.

Selalu saja semangatku meruah setiap akan memulai workshop penulisan. Energiku mengalir deras disegenap aliran darah, pori-pori kulit dan menguarkan kesegaran yang hangat. Workshop penulisan dan menulis, dua aktifitas yang selalu membuat energiku melimpah tak terbendung. Aku mengalami ekstase yang nyaman. Bahkan dalam momentum tertentu menulis, aku merasa menjadi pusat semesta. Aku merinding merasakan kedekatan dengan Sang Maha Pencipta. Udara, embun pagi, angin, dedaunan, debu jalanan seolah berbicara padaku dalam bahasa yang hening dan diam.

Agus, koordinator lapangan ICBC (Institute for Community Behavioral Change), sempat memberiku info tentang peserta yang akan ikut workshop. Mereka adalah ibu-ibu korban gempa yang didampingi ICBC dalam program pemberdayaan ekonomi. Ibu-ibu ini berasal dari Dusun Pundong, Kabupaten Bantul. Info yang lebih kusus lagi, ada seorang ibu yang tidak bisa menulis.

“Sebenarnya bisa sih, tapi kemampuannya untuk menulis jauh berada di bawah teman-teman anggota kelompok yang lain.” kata Agus menjelaskan.

“Dia menggenal huruf kan? Bisa menggoreskan huruf di atas kertas.” tanyaku.

Agus tertawa, “Tentu bisa saja bisa kalau menuliskan huruf.”

“Itu sudah cukup untuk mengikuti workshop.” kataku.

“Aku khawatirnya teman-temennya sedang menulis, dia diam saja. Dia jadi minder, Mas. Bahkan untuk berbicara pun dia mengalami kesulitan.” tambah Agus. “Mungkin perlu disiapkan metode lain untuk ibu itu, misalnya direkam. Dari rekaman itu kemudian dituliskan.” Agus tidak menyembunyikan kekawatirannya.

Itu plan c, bathinku. Selama menjalankan workshop belum pernah aku menggunakan plan c, meskipun aku selalu menyiapkannya sebagai langkah terakhir ketika plan a dan plan b gagal. Bukankah kemungkinan terburuk adalah jalan terbaik?

“Kita lihat saja nanti,” kataku. “Tidak ada salahnya kalau disiapkan alat rekam.” lanjutku.

Saat kami sampai di perpus ICBC, keadaan masih sepi. Lagi dalam perjalanan, kata Agus menjelaskan pada kami. Selama menunggu, kami menyusun rencana untuk menyiasati jalannya workshop. Tapi aku menolak memperlakukan ibu itu dengan khusus. Menurutku malah sebaliknya, dia harus diperlakukan sama seperti ibu-ibu peserta lain. Tidak perlu ada perlakuan khusus. Sesuatu yang aku imani sejak lama, setiap orang yang pernah mengenal huruf, bisa menuliskannya walau terbata, pasti bisa menulis.

Menulis itu tidak beda dengan pekerjaan lain seperti tukang kayu, tukang batik dan lain-lain. Menulis bisa dipelajari. Hanya dengan berlatih terus menerus tukang kayu, tukang batik bisa menjadi ahli, demikian juga menulis. Karena itu dengan menjadi penulis tidak lantas status sosialnya meningkat lebih tinggi dari yang lain, mungkin ada yang beranggapan seperti itu. Tapi menurutku itu omong kosong. Penulis tidak berbeda dengan manusia kebanyakan. Yang membuat manusia bermartabat adalah apa yang dilakukannya untuk orang banyak. Tentu saja seorang tukang kayu yang menghidupi anak istrinya, dan memberi makan tetangganya yang papa, jauh lebih bermartabat dari seorang penulis yang sibuk dengan dirinya sendiri.

Workshop dimulai jam sepuluh lebih. Aku memulai workshop dengan memberi motivasi bahwa menulis itu gampang dan bisa dilakukan oleh siapa saja, kemudian sedikit tentang analisa sosial, dan game-game menullis yang dari waktu ke waktu terus bertambah. Selama workshop, diam-diam aku mengamati ibu yang katanya harus mendapat perlakuan khusus. Aku memperlakukan ibu itu sama seperti peserta lain. Saat peserta lain harus latihan menulis, aku menekan dia untuk menulis sebisanya.

Dalam workshop penulisan untuk pemula, tidak ada aturan harus menulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dengan benar. Aku meminta semua aturan itu ditabrak atau dianggap tidak ada. Peserta workshop bebas menuliskan pengalaman mereka bertahan hidup seusai terkena bencana gempa bumi dahsyat yang terjadi di Jogja pada bulan Mei 2006 lalu.

Kenapa aku membebaskan mereka? Dalam keriuahan Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, tradisi lisan mengakar demikian kuat di masyarakat. Tradisi lisan itu berkembang selama berabad-abad dalam bentuk dongeng yang dituturkan secara turun temurun. Di beberapa tempat lain seperti di Sumatera, tradisi lisan itu, selain muncul dalam bentuk dongeng, juga muncul dalam bentuk lain yang kita kenal dengan sebutan pantun. Ada banyak keragaman tradisi lisan di Indonesia. Tidak mungkin merubah kultur yang hidup selama berabad-abad itu dalam waktu yang pendek, apalagi dalam sekali workshop. Karena itu aturan ke-indonesiaan tentang bahasa yang baik dan benar, tidak diberlakukan dalam workshop, meski dalam workshop tingkat lanjut itu mungkin dilakukan. Sebab kalau itu diberlakukan, peserta sibuk memikirkan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, peserta akan takut melakukan kesalahan dalam menulis, pekerjaan menulis jadi akan terasa berat dan hasilnya pasti menakjubkan: peserta tidak pernah menulis sepanjang workshop!

Ada banyak pengalaman berharga yang dituliskan ibu-ibu korban gempa, pengalaman yang selama ini tidak pernah dipublish di media. Pengalaman yang hanya bisa dituliskan langsung oleh korban. Ada banyak pelajaran berharga buatku. Hari pertama workshop, semua masih berjalan seperti yang kami rencanakan, termasuk ibu itu. Dia menulis meski tertatih-tatih. Pada hari kedua, sebelum workshop dimulai, aku sempat diskusi sama Eka tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

“Besok setelah makan siang, kalau dia tidak berhasil mencapai satu halaman, dia harus diwawancarai.” kataku pada Eka. “Aku sudah menyiapkan daftar pertanyaan.”

Eka mengangguk.

“Tapi kalau dia bisa mencapai target terendah, kita tidak perlu melakukan itu.”

Pada hari ketiga, hari terakhir workshop, aku lihat ibu itu sudah mencapai tiga halaman. Aku temui Agus, koordinator yang mengurus pemberdayaan ekonomi yang dilakukan ibu-ibu, sekaligus koordinator workshop penulisan.

“Mas, menurutku ibu itu tidak perlu diwawancarai.” Kataku padanya. “kalau mau diterbitkan, biarkan saja apa adanya. Paling yang perlu dilakukan editing pengulangan dan kesalahan ejaan. Kita harus menghormati dan memberi penghargaan atas usahannya untuk menulis,”

Agus setuju dengan usulku. Di akhir workshop ibu tersebut menyerahkan lima halaman tulisan tangan. Tulisannya mirip puisi. Aku tersenyum, mungkin itu tulisan terpanjang sepanjang sejarah menulis dia.

Satu hal yang coba aku lihat dari khasus ibu itu. Di dunia ini tidak ada orang yang begitu lahir langsung bodoh. Tidak ada takdir bodoh untuk seorang manusia. Tuhan juga sangat bodoh dan tidak adil kalau melakukan itu. Aku mencurigai lingkungan tempat dia hidup yang membuatnya begitu. Dari cerita Agus yang kudengar, orang-orang kampung sejak awal mencap dia tidak bisa. Cap atau stempel bahwa dia tidak bisa tersebut dilakukan terus menerus dilekatkan padanya selama bertahun-tahun. Tidak ada ruang untuk mengubah stigma buruk itu. Lama-lama ibu tersebut tanpa menyadari menikmati stigma buruk itu. Dia berlindung dalam stigma buruk itu untuk kenyamanannya karena bisa terbebas dari beban sosial yang ada di masyarakat dan menjauhkan dari tuntutan masyarakat terhadap sesuatu atau pekerjaan yang menantang untuk berkembang lebih jauh. Kalau benar itu yang terjadi, masyarakat telah melakukan dosa kolektif, tentu saja Negara juga punya andil besar dalam proses pembodohan itu. Terbukti ketika dia diberi ruang, diberi kesempatan, diberi tanggung jawab, diperlakukan adil dan tidak rasis, ibu itu bisa melakukannya. Itu menurutku, tapi kalau ada yang tidak setuju dengan pendapatku, boleh saja. Tidak dosa berbeda pendapat……

workshop penulisan ICBC

workshop penulisan ICBC

workshop penulisan ICBC

workshop penulisan ICBC

Mesin Cerpen!

Setelah Lukisan Camar dimuat, aku menjalani kegilaan yang menyenangkan.

Setiap hari aku menulis tanpa kenal waktu seperti pelintas waktu yang tersesat di gurun dan menemukan oase di tengah gurun yang membara. Setetes air adalah harapan. Setetes air adalah kehidupan. Naskah-naskah lama yang pernah ditotak dan ngendon di kamar kontrakan kubaca ulang, kuganti judulnya atau kuedit sedikit, bahkan ada juga yang tidak tidak kusentuh sama sekali, kumasukkan amplop dan kukirim kembali ke redaksi. Hasilnya, satu dua bulan kemudian naskah tersebut muncul di majalah remaja!

Setiap bukan satu dua cerpenku nampang di majalah remaja dan aku tidak lagi miskin. Aku tidak perlu minta uang sekolah pada ayah yang bisnisnya kolap untuk membayar sekolah. Sebenarnya sudah lama aku menenggarai bisnis ayah akan runtuh, bukan karena kesenangan ayah pada SDSB, bukan itu. Tapi karena bisnis itu berjalan tidak sehat. Terlalu banyak duit yang mandeg di pedagang Surabaya dan itu berlangsung selama bertahun-tahun. Tinggal menunggu waktu saja keruntuhannya. Benar saja, waktu aku masuk sekolah menengah atas, bisnis bapak benar-benar ambruk. Rumah kami disegel bank, sawah masuk ke pengadaian, beberapa keluarga pergi jadi TKI keluar negeri. Karena sejak awal aku bisa menduga nasib bisnis ayah, secara mental aku siap dengan ambruknya bisnis keluarga itu, tapi tidak dengan keluargaku yang lain. Untuk mensiasati itu, dimasa sma, aku memang menjadi loper koran untuk menambah biasa hidup dan sekolah. Kebetulan sekolahku masuk siang, jadi aku bisa melakukan kerja paruh waktu.

Awalnya sederhana, seorang tetangga kontrakanku loper koran. Aku bertanya padanya, bagimana cara jadi loper koran? Dia menyarankan aku datang ke agennya, biar dia yang mengatakan langsung pada bos agen koran. Sebenarnya tidak hanya aku yang jadi loper, ada seorang temanku yang juga ingin melakukannya. Keesokan harinya, aku berangkat bersama tetanggaku itu ke agen koran. Jadilah aku loper koran. Sementara temanku, niatnya hanya sampai pada keinginan.

Sejak itu, setiap pagi aku pergi ke stasiun kereta, ke pemberhentian bis di depan kantor pos Kepanjen, atau pasar Kepanjen, bahkan aku setiap pagi harus menumpang bis gratis bus jurusan Blitar-Gadang untuk mencapai kota Malang yang berjarak duapuluh kiloan dari kota Kepanjen untuk menjual koran.

Ada pengalaman menarik saat aku jualan koran, pagi itu saat aku masih beberapa hari jualan koran, aku melihat seorang penjual koran naik ke atas bus, membagikan koran dan berteriak-teriak membacakan headline koran. Puluhan penumpang langsung membeli korannya. Aku takjub dengan caranya, meski kadang berita yang diteriakkan tidak ada di koran pagi itu. Heheheh. Hebat juga, dia pintar penarik perhatian penumpang. Dia  tahu berita apa yang disukai pembaca. Berita pembunuhan menempati peringkat pertama, apalagi kalau itu terjadi di kota Kepanjen atau kota-kota yang berdekatan. Bisa dicoba tuh, kataku dalam hati.

Besoknya, pagi-pagi sekali, dengan semangat empat lima aku mendatangi tempat pemberhentian bis. Sejenak aku ragu saat melihat bis penuh dengan penumpang. Dadaku berdebar. Aku belum pernah jualan di bis. Setelah menimbang-nimbang, aku nekat naik ke atas bis, membagikan koran ke semua penumpang. Di ujung depan bis, saat mau membacakan headline koran, suaraku mendadak hilang. Tubuhku dipenuhi keringat dingin. Ternyata tidak gampang berbicara di depan orang banyak. Aku membatalkan niatku, kembali ke lorong bis dan mengambili koran satu-satu. Hanya dua koran terjual. Ternyata tidak hanya dibutuhkan keberanian untuk melakukan itu tapi juga mental. Sial!

Saat bis itu berlalu dan berganti dengan bis yang lain, aku masih tercekat di emper sebuah toko. Aku tidak punya keberanian melakukannya lagi. Kemudian penjual koran yang kulihat kemarin datang, dia menyapaku.

”Sudah naik bis?” tanyanya.

Aku menggeleng, ”Belum.” jawabku.

Dia meloncat masuk dan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Saat keluar dari bis, dia tersenyum padaku, ”Lumayan. Sembilan koran,” katanya sambil mengibaskan lembaran duit di tangannya. Aku memandangnya dengan lemas. Aku segera meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan menuju stasiun kereta, aku terkenang kegagalanku pagi itu.

Keesokan harinya, aku datang lagi ke pemberhentian bis. Aku belum menyerah. Aku harus menebus kegagalan kemarin. Aku naik ke bis, membagikan koran dan mulai berteriak-teriak dengan suara sember. Besoknya aku datang lagi, naik ke atas bis dan berteriak-teriak dengan suara yang lebih keras. Lama-lama aku bisa mendongeng di atas bis dan turun dengan tertawa lebar. Bahkan tidak jarang, karena numpang gratis, aku harus menggantikan peran kenek bis selama perjalanan.

Pernah juga, saat nonkrong bareng tukang becak di depan pasar Kepanjen, seorang guru bahasa Inggris melintas di depan pasar. Dia melihatku dan mendekat.

”Setiap pagi kamu jualan koran ya?” tanyanya.

Aku mengangguk, ”Ya. Beli koran dong, Bu, biar bisa membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.” todongku.

”Mencerdaskan kehidupan bangsa gundulmu!” katanya sembari tersenyum. Tapi dia membeli juga koranku. ”Mulai besok, antarkan koran ke rumahku ya?” lanjutnya sebelum pergi. Aku mengangguk senang.

Aku berjualan koran selama setahunan. Masih tertinggal segar dalam ruang ingatanku, saat hari pertama jualan koran, aku pulang dengan duit yang tidak seberapa besar di tanganku. Bahagia sekali aku hari itu. Aku menimang-nimang duit hasil kerja pertamaku itu di sepanjang jalan pulang. Aku melewati orang-orang yang berjualan buku di sepanjang trotoar. Aku melihat buku kamus bahasa Indonesia yang bersampul hitam, dengan strip putih, merah dan kuning. Tanpa mikir dua kali, aku ambil kamus itu. Kuberikan semua duitku pada penjual buku. Dalam perjalanan menuju rumah kost, aku menggenggam buku itu dengan haru dan pulang tidak membawa duit sama sekali!

Saat naik ke kelas dua dengan nilai hancur lebur, aku memutuskan berhenti jualan koran. Lagi pula itu tidak mungkin kulakukan karena sekolah masuk pagi. Padahal saat smp dulu, nilai terburukku hanya di rangkin lima, selebihnya rangking satu atau dua. Sedang saat sma, nilai terburukku ranking tujuh dalam satu kelas, itu pun dari belakang! Saat kenaikan dari kelas satu ke kelas dua, aku tidak berani pergi ke sekolah. Aku takut tidak naik kelas karena sering tidur di dalam kelas karena kelelahan dan sering tidak memperhatikan guru. Kebetulan saat penerimaan rapot, harus orang tua yang mengambil. Aku minta ayah datang ke sekolah. Aku tinggal di rumah.

Wegah aku teko nang sekolahmu maneh. Aku diseneni gurumu. Jare kowe sering turu nang kelas, sering ra ngatekke guru. (Aku tidak mau datang ke sekolahmu lagi. Aku dimarahi gurumu. Katanya, kamu sering tidur dan tidak memperhatikan guru.)” kata ayahku begitu sampai di rumah. Raport diletakkan di atas meja. Itu pertama kalinya ayah pergi ke sekolah untuk menerima raport dan hasilnya buruk.

Sampai dua hari raport itu tergeletak di atas meja, aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku takut menerima kenyataan bahwa aku tidak naik kelas. Pada hari ketiga, aku memberanikan diri menyentuh raport itu, dan membukanya dengan dada berdebar. Yang kulihat pertama kali bukan nilainya, tapi tulisan yang tertera dibawahnya. Naik ke kelas dua! Aku melonjak gembira. Aku tidak peduli ada nilai kursi terbalik. Yang penting naik kelas!

Raport memang sering bikin masalah buatku, apalagi segala sesuatu di negeri ini diukur dari statistik, dari angka-angka, termasuk dalam hal pendidikan. Nilai buruk berarti kiamat. Pada semester berikutnya, karena ayah sudah tidak mau pergi ke sekolah, aku mencari cara lain. Saat pengambilan raport, aku minta tolong pada tukang becak di depan sekolah. Kubelikan dia rokok dan kukasih duit yang tidak seberapa. Aku menulis namaku di kertas agar dia tidak lupa dan beberapa istruksi lain, termasuk kalau ditanya wali kelasku, dia harus menjawab, aku adiknya atau sepupunya. Deal! Semester itu aku sukses mengelabui sekolah. Tapi tidak pada semester berikutnya. Kurang lebih sebulan setelah liburan sekolah, aku ditegur wali kelas.

”Yang mengambil raport kemarin, bukan sepupumu ya?” tanyanya.

Aku terdiam. Bingung mau menjawab apa.

”Dia tukang becak yang biasa mangkal di depan sekolah, kan?” cecar ibu wali kelas. ”Tukang becak itu langgananku saat pulang dari sekolah. Besok kalau dia lagi yang mengambil raport, tidak akan kuberikan.” lanjutnya mengancam.

Aku tidak bisa berbohong lagi. Sudah ketahuan kadalnya. Akhirnya aku mengakui semua. Saat pengambilan raport berikutnya, aku tidak meminta siapa pun untuk mengambilnya. Padahal saat itu kenaikan kelas.

”Kenapa raportmu tidak diambil? Mana ayahmu?” tanya ibu wali kelas ketika semua raport sudah dibagikan ke orang tua murid.

”Di rumah.” jawabku. ”Apa aku naik kelas, Bu?” lanjutku bertanya.

”Naik kelas. Tapi ayahmu harus ke sini untuk ambil raport.” kata ibu wali kelas.

”Makasih, Bu.” aku mengangguk dan pamit pulang. Itu sudah cukup buatku.

Rapot tidak pernah kuambil. Setelah liburan panjang, dengan percaya diri, aku langsung masuk ke kelas tiga. Aku tidak pernah mengurus raportku sampai lulus.

Berhenti jualan koran, menulislah pekerjaanku. Setiap hari, saat malam mulai larut, aku memasang kertas pada gandaran mesin ketik. Keluarga tempat aku kost hapal benar kebiasaanku itu. Aku memberi target pada diriku sendiri, setiap minggu harus mengirimkan satu cerpen ke majalah remaja. Satu bulan aku mengirim empat cerpen. Itu hukumnya wajib. Aku menjadi mesin pembuat cerpen. Aku tidak pernah bingung lagi membiayai sekolah, menghidupi diriku sendiri dan tentu sana, membeli buku yang aku suka….

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.