14 Juni 1994, pagi subuh pukul 2.
Aku menginjakkan kaki di terminal Umbulharjo. Aku mencium bau Jogja yang kukenal, bau yang ramah di hidung dan ingatanku. Sederhana saja kepergianku ke Jogja. Bukankah tidak perlu karnaval keramaian untuk setiap kepergian? Pada tahun 1992, sekolahku mengadakan kegiatan study tour ke Jogja. Sialnya hanya ke Jogja, kalau saat itu study tour ke Bali atau ke Paris, tentu pagi itu, aku sedang nongkrong di Kuta atau sedang ngopi sambil menikmati rokok di bawah menara Eifel….heheheeh. Meski begitu, Jogja tetap sesuatu yang harus kusyukuri.
Aku masih ingat percakapanku dengan ayah beberapa hari sebelum berangkat ke Jogja. Saat itu aku baru beberapa hari pulang ke rumah, menikmati masa-masa menjadi pengangguran baru, setelah menamatkan sma di kota Kepanjen, kota yang berjarak kurang lebih 30km dari tanah kelahiranku yang jauh dari keramaian.
“Apa yang akan kaulakukan?” tanya ayah saat itu.
“Aku tidak tahu,” jawabku
“Sebaiknya kau kuliah. Nanti kakakmu yang akan membantu biaya kuliah,” kata ayah lagi.
“Tidak, aku tidak akan kuliah kalau aku tidak bisa membiayai hidupku sendiri,” kataku pongah.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku akan pergi ke Jogja.”
“Untuk apa?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku ingin pergi ke Jogja.”
Ayah terdiam mendengar jawabanku. Ayah adalah kesunyian tiada bertepi. Ayah biasa duduk berjam-jam dalam dekapan sepi. Entah apa yang dipikirkannya. Ayah begitu diam dan sering tidak terduga. Beda sekali dengan ibu. Ibu adalah sosok yang terus bergerak. Di rumah, saat aku terbangun di pagi hari, ibu pasti sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan masakan bagi warung kecil yang dikelolanya. Denting peralatan dapur yang dihasilkan tangan terampil ibu masih tertinggal dalam ingatanku sampai hari ini. Aku seperti mendengar konser agung saat terjaga dari tidur di setiap pagi. Dari ibu, aku belajar kerja keras, dari ayah, aku belajar mencintai keheningan. Sementara di jalan-jalan kota Kepanjen –dan kelak di Malioboro-, aku belajar survival, belajar cara bertahan hidup.
Beberapa hari kemudian, saat melihat aku tidak berubah dengan keinginanku, ayah mendekatiku.
“Pergilah ke Jogja, jadilah seperti yang kau ingini,” kata ayah pendek.
Begitulah, satu minggu setelah kelulusan, aku mengepak rangsel, meloncat ke angkutan pedesaan, berlari ke barat, mengejar matahari dan terdampar di terminal Umbulharjo di pagi buta dalam gigil sepi. Setelah berhasil menghindari sergapan tukang becak yang menawarkan jasa, aku berjalan kaki dari terminal Umbulharjo sampai ke Alun-alun Utara. Sebuah jarak yang lumayan jauh. itu baru kusadari setelah beberapa lama aku tinggal di jogja. Aku menghabiskan malam itu di serambi masjid gedhe.
Paginya, aku pergi ke alun-alun utara, saat itu mau ada perayaan sekaten, aku memperhatikan orang-orang yang sedang membangun los jualan sekaten, saat itu seorang anak muda menawariku guci gerabah. Guci itu biasanya jadi souvenir, oleh-oleh dari khas Jogja.
Aku menolak membeli gucinya, aku malah mengajaknya ngobrol. Di bawah terik udara Jogja yang menyengat, di bawah kanopi pohon beringin, anak muda itu bercerita tentang hidupnya, tentang pekerjaannya, dan juga tentang kedatanganku di Jogja. Diakhir percakapan kami, aku bertanya padanya, “Bolehkah aku ikut jualan guci?”
“Nanti, aku kenalkan sama pemilik guci, biar kamu boleh jualan guci,” katanya.
Besoknya, aku jualan guci gerabah tanpa berpikir dua kali. Hidup harus terus dipertahankan, dijaga, termasuk menjaga kepercayaan ayah yang membiarkan aku pergi ke Jogja untuk bersahabat dengan ketidakpastian. Saat sekaten mulai, berkat pertemuanku dengan teman semasa sma yang kuliah di Jogja, aku ikut berjualan di pasar malam sekaten. Aku akhirnya numpang di teman tersebut selama tiga bulan, sebelum aku diusir pergi karena nggak pernah bayar. Kemudian aku mengambil kost sempit di Kauman dengan harga perbulannya 12.500 juga berkat seorang kawan. Kawan-kawan yang kukenal sepanjang perjalanan hidupku itulah yang banyak membantuku, bahkan sampai sekarang. Tanpa mereka, aku tidak akan menjadi seperti hari ini. Aku berhutang budi pada mereka.
Dua sampai tiga tahun pertama tinggal di Jogja, aku banyak sekali berganti kerja sekedar untuk mempertahankan hidup. Berawal dari jual guci, kemudian jual souvenir saat sekalten, jadi loper koran, jualan serbet dan bh keliling di pasar-pasar tradisional seputar Jogja. Saat itu, aku hapal semua hari-hari pasaran tradisional dalam hitungan Jawa, misalnya pasaran pon, aku harus jualan di pasar Godean dan pasar-pasar lain.
Ada peristiwa yang tidak pernah kulupakan saat jualan serbet di pasar Muntilan. Pagi itu, seorang ibu bersama anak perempuannya mendekati daganganku. Manis juga gadis itu, bathinku saat melihatnya.
“Berapa harga bh-nya, Mas?” tanya ibu itu padaku.
“3000,” jawabku.
“Bh molor kayak gini 3000, 1500 kalau boleh?”
Aku membeli satu lusin bh dari pasar Klewer Solo seharga 7500, jadi tidak masalah bh kulepas dengan harga 1500. Aku mengiyakan penawaran ibu itu.
Dia kemudian menoleh pada gadis di sampingnya, “Berapa ukuranmu?”
Wajah gadis itu memerah, dia menunduk
“Berapa ukuranmu?” ulang si ibu.
Gadis itu menunduk semakin dalam. Dia tak berani menjawab.
Tidak sabar, si ibu mengambil sebuah bh dari tumpukan dan menempelkan ke dada gadis itu. Kekecilan, dia mengambil lagi dan menempelkan ke dada si gadis, begitu berulang-ulang. Pakaian gadis itu basah oleh keringat, wajahnya benar-benar merah seperti kepiting rebus. Aku menahan tawa melihat itu, tapi juga merasa kasihan pada gadis itu. Di tengah keramaian pasar, dia menahan malu sendirian.
Saat bh yang dicarinya cocok, si ibu melihat ukurannya, “34 b,” suaranya masih sedikit menyimpan kejengkelan.
Setelah membayar, ibu itu menyeret anaknya pergi masih dengan kepalan tertunduk.
“34 b,” seorang teman pedagang yang sejak tadi memperhatikan itu nyeletuk sambil tertawa ngakak. Aku ikut tertawa, aku ingat wajah gadis itu yang merah seperti kepiting rebus. Semakin manis saja gadis itu kalau lagi malu-malu begitu, kataku dalam hati…..heheeh
Selain itu, aku juga pernah kerja di industri kerajinan di Prambanan. Sejak awal datang ke tempat itu, aku ingin hanya untuk belajar, tidak lebih dari itu. Karena itu aku mengatakan pada pemiliknya juga untuk belajar. Home industri itu memproduksi miniature dari kayu seperti Harley Davidson, mobil VW, kereta api dan banyak lagi yang lain.
Selepas kerja, setelah jam empat, biasanya teman-teman istirahat, tapi aku tidak. Aku belajar memotong kayu, belajar menggunakan mesin bubut, belajar menggunakan gergaji mesin. Suatu sore, aku menghabiskan satu mobil pickup kayu untuk belajar. Karena masih belajar, presisi pemotongan yang kulakukan buruk, teman-teman ngamuk-ngamuk karena kayu yang kugunakan belajar merupakan kayu yang harus dipakai produksi keesokan harinya. Aku kemudian menemui bos pemilik kerajinan.
“Mas, kayu yang mau dipakai produksi besok rusak semua,” kataku padanya.
“Kok bisa?”
“Aku pakai untuk belajar memotong,” kataku jujur.
Dia terdiam sejenak, kemudian menarik napas panjang, “Kalau dipakai untuk belajar yang gak papa. Besok pagi-pagi kita ambil kayu lagi,” katanya enteng.
Aku menemui teman-teman yang tadi marah-marah sambil tertawa lebar. Aku minta mereka bertanya sama si bos, kalau yang kulakukan nggak papa. Teman-teman hanya pasrah saja mendengar jawabanku. Aku bertahan di industi kerajinan itu hanya kurang lebih dua bulan. Begitu aku sudah bisa mengoperasikan semua alat, aku pamit pada pemilik kerajinan. Dia tersenyum dan melepasku pergi dengan lapang, bahkan dia merekomendasikan untuk belajar cetak di Kota Gedhe, Jogja.
Satu hal yang tidak pernah kutinggalkan disela semua pekerjaan yang kulakukan adalah menulis. Aku boleh bekerja apa saja untuk mempertahankan hidup, tapi aku tidak boleh meninggalkan menulis. Sebab menulis memberi keseimbangan hidup padaku. Karena itu tidak perlu heran, kalau setiap malam mesin ketik di kamar kostku menghentak-hentak tidak pernah lelah. Tetangga kostku hapal itu, kalau semalam saja dia tidak mendengarkan bunyi mesin ketik, dia akan bertanya, “Semalam tidak di kost ya? Kok aku tidak mendengar bunyi mesin ketiknya?”
Aku tertawa.
“Kalau tidak dengar suara mesin tik, saat malam saya saya takut di rumah. Sepi sekali rasanya.”
Aku tertawa semakin keras. Ternyata berguna juga suara mesin ketikku yang berisik………….

























