Senja mulai mengering, gelap mulai memberati udara. Sebentar lagi gelap pasti meraja. Aku masih terduduk di depan meja mengerjakan pr dalam balutan cahaya kekuningan lampu petromak. Bayanganku melabur di tembok ruang tengah.
Seorang lelaki dengan dengan garis-garis waktu yang terpahat di wajahnya masuk ruang depan. Dia ayahku. Sejenak aku memandang ayah yang baru pulang. Ada kelelahan terpatri di wajahnya yang membuat lipatan kulitnya semakin terlihat jelas. Ayah seorang pedagang yang lumayan berhasil walau hanya berpendidikan SR. Sekolah ongko loro, begitu ayah menyebutnya. Ayah membeli hasil pertanian seperti; pisang, kelapa, dan arang. Hasil pertanian tersebut dijual petani di depan rumah. Ada sebuah areal kosong yang sedikit luas di depan rumah, biasanya tempat itu digunakan sebagai pasar. Pasar krempyeng. Tidak setiap hari pasar ramai, hanya pada pasaran paing dan kliwon pasar ramai, selepas itu tempat itu digunakan sebagai lapangan sepak bola dan lapangan volley. Ayah membeli hasil pertanian tersebut dari pada petani, kemudian membawanya ke Surabaya untuk dijual lagi. Untuk mengirim hasil pertanian dari Malang ke Surabaya, ayah menggunakan truk. Biasanya sekali kirim satu truk, tapi untuk arang, bisa dua sampai tiga truk dalam sekali kirim. Sore itu ayah baru pulang narik duit jualan dari Surabaya. Ayah menghampiriku.
“Ini aku bawakan oleh-oleh buatmu.” kata ayah sambil mengangsurkan kresek hitam yang dibawahnya.
Aku menerimanya dan membuka tas kresek itu. Bendelan majalah bekas, majalah Bobo! Ayah segera berlalu begitu saja. Ayah orangnya tidak banyak bicara. Tidak pernah juga menyuruh belajar. Ayah tipe perenung sejati. Kadang Ayah bisa duduk berjam-jam lamanya dalam hening. Aku hapal kebiasaan itu, meski tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya.
Menyenangkan sekali menerima majalah bekas itu. Tidak biasanya ayah begitu. Kesibukanku segera berpindah ke majalah Bobo, kutinggalkan pr yang sedang kukerjakan. Sejak itu aku kenal Oki dan Nirmala dari Negeri Dongeng, kenal Pak Jangut dengan kantong ajaibnya, kenal Bona si belalai panjang, kenal si sirik, kenal Hasta dan Husein, dan tentu saja kenal Deni, si manusia ikan.
Aku paling suka dengan komik strip Deni manusia ikan. Aku suka perjuangan bagaimana Deni mencoba mencari kedua orang tuanya yang entah ada dimana. Banyak rintangan yang ditemukan Deni selama mencari kedua orang tuanya, tapi Deni tidak pernah menyerah. Sejak itu, setiap ayah pulang, aku selalu menunggu kelanjutan kisah Deni manusia ikan yang menakjubkan. Tapi karena hanya membeli majalah bekas di loakan, jadi cerita tentang Deni tidak bisa kuikuti dengan runtut. Kadang ayah membawa bendel edisi sebelumnya atau malah meloncat beberapa edisi berikutnya. Aku selalu menunggu Deni seperti aku menunggu kawan lama bersua.
Satu hal yang kelak baru aku sadari, rasa penasaran terhadap perjuangan Deni menemukan kedua orang tuanya, membuat aku jadi senang membaca. Kebosanan karena edisi berikutnya belum datang membuat aku menghabiskan seluruh bendel yang dibelikan ayah, bahkan edisi-edisi yang sudah kubaca kubaca ulang sampai hapal di luar kepala.
Selama bertahun-tahun aku penarasan menggenapkan seluruh kisah hidup Deni. Kelak ketika SMA, di loakan dekat sekolah, aku menemukan bendel terakhir Deni manusia ikan. Setelah hampir tujuh tahun menunggu, lengkap sudah! Aku buru-buru membelinya dan membawa pulang ke tempat kost dengan suka cita. Alangkah bahagianya aku hari itu seperti kebahagian Deni bertemu dengan kedua orang tuanya.
Aku jadi ingat ayah. Aku ingat keletihan di wajahnya saat pulang. Aku ingat ayah yang begitu diam dan hening. Satu hal yang aku lupa bertanya pada ayah sampai Tuhan memanggilnya, darimana ayah punya pikiran membeli bendel majalah bekas itu? Bendel majalah bekas yang kelak menuntun anaknya dekat dengan buku dan tulisan?
hari ini, kukorupsi waktu kerjaku dan menghabiskannya hanya untuk membaca semua tulisanmu… seperti berkaca pada perjalanan masa lalu yang dalam terkubur.
wwkwkwkwkkwkwk. terima kasih. itu kehormatan besar buatku