Mungkin kecurigaan mulai mengintai ayah, mengikutinya kemana pun ayah pergi. Mungkin. Ayah adalah tipe lelaki jawa sejati. Ayah begitu hening, begitu diam. Aku seringkali tidak bisa menduga apa yang melintas dalam pikiran ayah. Ayah adalah benteng pertahanan jawa terakhir di rumahku. Ayah hidup dalam kultur jawa yang kental. Tidak hanya memahami jawa sebagai pandangan hidup, ayah juga menjalankannya, laku, dalam kesehariannya. Ritual jawa, muteh, ngbeleng, pati geni dan banyak lagi yang aku tidak tahu cara menyebutnya, tidak pernah lepas dari hidup ayah.
Guru sejati ayah adalah kakek dan itu diturunkan langsung dari kakek buyutku. Konon, buyutku merupakan seorang pelarian dari mataram, di kampungku menyebut kesultanan Yogyakarta dan Solo dengan sebutan seperti itu. Setelah perang Jawa berakhir, pengikut-pengikut setia Diponegoro yang tidak mau menyerah melarikan diri ke manca negara atau ke luar Jogja. Mereka keluar masuk rimba raya untuk menemukan daerah baru yang aman. Di rimba raya dekat dengan pantai selatan Jawa banyak ditemukan petilasan yang bercerita tentang pelarian itu.
Para penjelajah waktu ini keluar masuk rimba raya untuk menemukan tempat yang bernama kebebasan. Sebuah sikap pantang menyerah ketika perlawanan bersenjata berhasil dipatahkan. Mereka membuka hutan, membuka ladang untuk memulai kehidupan baru. Kedatangan sekelompok orang dan menjadikan tempat itu sebagai rumah menjadi buah bibir masyarakat sekitarnya. Tempat itu oleh banyak orang kemudian disebut Bantur, dari kata kembange tutur, buah pembicaraan.
Kemudian orang mulai datang pada penjelajah waktu itu untuk ngangsu kaweruh, mencari ilmu karena mereka menganggap penjelajah waktu termasuk orang yang linuweh atau punya kemampuan. Orang-orang dari berbagai pelosok Jawa kemudian bermunculan dan tinggal bertahun-tahun di rumah. Aku masih sempat melihat sisa-sisa murid kakek yang kadang-kadang muncul begitu saja di rumah tanpa pernah tahu kapan dia datang. Buyutku menurunkan kaweruh yang dimilikinya pada Soemawijaya, kakekku, pada ayahku dan pada murid-muridnya yang lain.
Aku tidak terlalu mengenal kakek, sebab dia kembali pada Tuhan saat aku masih kecil, bahkan untuk sekedar mengingat wajahnya pun, aku tidak bisa melakukanya. Aku hanya mendengar cerita kakekku dari ayah dan orang-orang yang pernah jadi murid atau membantunya. Tapi sebagai seorang lelaki jawa sejati, menurutku, kakek tidak akan berbeda jauh dengan ayah, mungkin buyutku juga begitu. Mereka lelaki yang hening dan diam. Lelaki keras kepala yang tidak pernah mau menyerah pada prinsip-prinsip yang dilawannya.
Aku pernah bertanya pada ibu, kenapa ayah tidak pernah memperkenalkan keluarga pada saudara jauh di Jogja ben ra kepaten obor, biar tidak kehilangan keluarga. Sebab hanya ayah yang tahu keluarga jauh itu dimana tempatnya. Ibu menirukan ucapan ayah begini, “Kalian tidak perlu berdarah ningrat untuk hidup. Aku percaya kalian bisa hidup tanpa tetek bengek seperti itu.” Prinsip itu dipegang ayah sepanjang hayat.
Aku tidak tahu, pengetahuan ayah yang sebelah mana, keyakinan yang sebelah mana atau karena kecurigaannya setiap sore aku menghilang dari rumah menuju kantor kecamatan. Sore itu, saat aku terpekur memegang pena dan menghadapi kertas, ayah datang menghampiriku dan menyerahkan sebuah mesin ketik yang dia dapat dari loakan.
“Kowe butuh iki toh?” kata ayah pendek.
Aku menerima mesin ketik itu dan memandang ayah haru. Tidak ada kalimat meluncur dari bibir ayah. Kemudian ayah berlalu begitu saja. Suka cita kubuka mesin ketik itu, menyentuh tut-tutnya dengan lembut, darahku mengelora dengan cepat. Aku menyisihan penaku, memasukkan kertas ke gandaran, mulai menulis dengan semangat membuncah.
kenangan yang sama meski dari sumber yang berbeda. penyemangat menulis dari sebuah mesin ketik butut. tapi dari sini keinginan menulis tubuh dari jari-jari kecil untuk menuliskan kisah dunia. terima kasih untuk cerita dan kisahnya.
terima kasih telah membaca perjalanan gelisahku.