Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Kaliurang basah, 2009

Aku sama Eka memacu motor mendaki Merapi yang masih diselimuti kabut tipis. Jalan raya membentang dihadapan kami seperti menunggu tidak sabar. Aku selalu merasakan sensasi menyenangkan setiap berangkat workshop.

Pukul sembilan lebih, kami mencapai hotel Kayu Manis. Nurma koordinator PS (Pendidik Sebaya), Mas Edo direktur ICBC dan seorang panitia menunggu kami di ruang pertemuan. Peserta sedang dalam perjalanan, mas, kata Nurma. Aku mengiyakan saja. Informasi yang kuetrima peserta akan datang bertahap. Sepagi ini, menikmati kopi, merokok dan menatap lanskap Jogja yang menawan. Alangkah nikmatnya.

ICBC, Institute for Community Behavioral Change, merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pendampingan masyarakat. Salah satu program ICBC adalah PS (pendidik sebaya). Program yang didanai oleh Ford Foundation menggambil fokus kerja melatih anak muda atau siswa sekolah tentang kesehatan reproduksi remaja. Anak muda atau siswa yang telah dilatih ini kemudian melakukan kampanye pada temen-temen sebayanya tentang kesehatan reproduksi.

Ada dua kelompok yang akan mengikuti workshop penulisan kali ini. Mereka adalah PS sekolah dan PS dusun. Kedua PS tersebut berada dalam wilayah Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Latar belakang dipilihnya sebagai lokasi pembentukan PS tidak lain karena tempat yang tersebut merupakan lokasi wisata. Banyak pendatang datang ke Cangkringan untuk piknik. Kebanyakan pendatang itu adalah anak-anak muda yang menghabiskan waktu untuk pacaran. Itu menjadi pemandangan kesehatian anak-anak muda Cangkringan dan itu ditenggarai memberi efek yang buruk. Munculnya khasus hamil di usia dini dan mengharuskannya berhenti sekolah bisa ditemukan di Cangkringan. Berangkat dari keprihatinan seperti itu ICBC menggagas PS di Cangkringan. PS belajar tentang kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, kekerasan dalam pacaran, dan bagaimana berpacaran sehat.

Pukul sepuluhan workshop dimulai, peserta pertama yang mengikuti workshop; PS dusun. Sedang PS seolah baru bisa datang jam dua siang, selepas mereka sekolah. Tantangan terbesar dari workshop menulis yang berlangsung selama dua hari satu malam itu adalah peserta datang tidak bersamaan. Fasilitator harus menggulang materi dasar setiap kali peserta baru datang. Kelas pun dipecah jadi dua. Kelas yang sudah menerima materi awal (PS dusun), meneruskan materi berikutnya bersama Eka, sedang aku harus mengulang materi pada peserta yang baru datang (PS sekolah). Efeknya materi tidak merata karena keterbatasan waktu, tentu saja akan berimbas pada hasil yang tidak maksimal.

Di luar proses workshop, ada hal lain yang menarik diperhatikan. Anak-anak muda ini memiliki kepedulian yang besar terhadap sesamanya. Dengan menjadi PS, mereka dengan suka rela menerima tanggung jawab besar untuk menyampaikan betapa pentingnya pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, HIV/AIDS dan lain-lain bagi remaja. Berbekal pengetahuan itu mereka turun langsung ke masyarakat dan berhadapan dengan konvensi sosial yang masih menabuhkan hal-hal yang berbau kesehatan reproduksi. Para PS ini, mereka adalah anak-anak muda yang punya keberanian.

Untuk yang satu ini, secara jujur aku harus angkat topi. Karena itu ada harapan yang terbersit dalam diriku, proses pelatihan PS tidak berhenti begitu saja, tapi terus dikembangkan, sehingga semakin banyak anak muda yang memahami betapa pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi agar kehamilan di usia dini lebih bisa diminimalisir. Memang itu bukan pekerjaan yang muda. Menjadi PS berarti melawan arus dan mencoba menahan gelombang dari serbuan teknologi yang membawa pengaruh buruk dan godaan live style anak muda perkotaan yang menawarkan kebebasan.

Jangan Denger Omongan Orang Tua

Jangan Denger Omongan Orang Tua

Pagi yang tidak biasa. Pengap merapat demikian cepat. Sepagi itu udara sudah menyengat demikian pekat. Jam sembilan kurang sepuluh menit, aku mampir sejenak ke tandabaca untuk menjemput Eka sebelum berangkat ke perpustakaan ICBC di dekat Paku Pakualaman. Jarak perpustakaan ICBC dengan tandabaca tidak terlalu jauh, hanya  sak udutan, hanya sebatang tarikan rokok, istilah orang Jawa.

Selalu saja semangatku meruah setiap akan memulai workshop penulisan. Energiku mengalir deras disegenap aliran darah, pori-pori kulit dan menguarkan kesegaran yang hangat. Workshop penulisan dan menulis, dua aktifitas yang selalu membuat energiku melimpah tak terbendung. Aku mengalami ekstase yang nyaman. Bahkan dalam momentum tertentu menulis, aku merasa menjadi pusat semesta. Aku merinding merasakan kedekatan dengan Sang Maha Pencipta. Udara, embun pagi, angin, dedaunan, debu jalanan seolah berbicara padaku dalam bahasa yang hening dan diam.

Agus, koordinator lapangan ICBC (Institute for Community Behavioral Change), sempat memberiku info tentang peserta yang akan ikut workshop. Mereka adalah ibu-ibu korban gempa yang didampingi ICBC dalam program pemberdayaan ekonomi. Ibu-ibu ini berasal dari Dusun Pundong, Kabupaten Bantul. Info yang lebih kusus lagi, ada seorang ibu yang tidak bisa menulis.

“Sebenarnya bisa sih, tapi kemampuannya untuk menulis jauh berada di bawah teman-teman anggota kelompok yang lain.” kata Agus menjelaskan.

“Dia menggenal huruf kan? Bisa menggoreskan huruf di atas kertas.” tanyaku.

Agus tertawa, “Tentu bisa saja bisa kalau menuliskan huruf.”

“Itu sudah cukup untuk mengikuti workshop.” kataku.

“Aku khawatirnya teman-temennya sedang menulis, dia diam saja. Dia jadi minder, Mas. Bahkan untuk berbicara pun dia mengalami kesulitan.” tambah Agus. “Mungkin perlu disiapkan metode lain untuk ibu itu, misalnya direkam. Dari rekaman itu kemudian dituliskan.” Agus tidak menyembunyikan kekawatirannya.

Itu plan c, bathinku. Selama menjalankan workshop belum pernah aku menggunakan plan c, meskipun aku selalu menyiapkannya sebagai langkah terakhir ketika plan a dan plan b gagal. Bukankah kemungkinan terburuk adalah jalan terbaik?

“Kita lihat saja nanti,” kataku. “Tidak ada salahnya kalau disiapkan alat rekam.” lanjutku.

Saat kami sampai di perpus ICBC, keadaan masih sepi. Lagi dalam perjalanan, kata Agus menjelaskan pada kami. Selama menunggu, kami menyusun rencana untuk menyiasati jalannya workshop. Tapi aku menolak memperlakukan ibu itu dengan khusus. Menurutku malah sebaliknya, dia harus diperlakukan sama seperti ibu-ibu peserta lain. Tidak perlu ada perlakuan khusus. Sesuatu yang aku imani sejak lama, setiap orang yang pernah mengenal huruf, bisa menuliskannya walau terbata, pasti bisa menulis.

Menulis itu tidak beda dengan pekerjaan lain seperti tukang kayu, tukang batik dan lain-lain. Menulis bisa dipelajari. Hanya dengan berlatih terus menerus tukang kayu, tukang batik bisa menjadi ahli, demikian juga menulis. Karena itu dengan menjadi penulis tidak lantas status sosialnya meningkat lebih tinggi dari yang lain, mungkin ada yang beranggapan seperti itu. Tapi menurutku itu omong kosong. Penulis tidak berbeda dengan manusia kebanyakan. Yang membuat manusia bermartabat adalah apa yang dilakukannya untuk orang banyak. Tentu saja seorang tukang kayu yang menghidupi anak istrinya, dan memberi makan tetangganya yang papa, jauh lebih bermartabat dari seorang penulis yang sibuk dengan dirinya sendiri.

Workshop dimulai jam sepuluh lebih. Aku memulai workshop dengan memberi motivasi bahwa menulis itu gampang dan bisa dilakukan oleh siapa saja, kemudian sedikit tentang analisa sosial, dan game-game menullis yang dari waktu ke waktu terus bertambah. Selama workshop, diam-diam aku mengamati ibu yang katanya harus mendapat perlakuan khusus. Aku memperlakukan ibu itu sama seperti peserta lain. Saat peserta lain harus latihan menulis, aku menekan dia untuk menulis sebisanya.

Dalam workshop penulisan untuk pemula, tidak ada aturan harus menulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dengan benar. Aku meminta semua aturan itu ditabrak atau dianggap tidak ada. Peserta workshop bebas menuliskan pengalaman mereka bertahan hidup seusai terkena bencana gempa bumi dahsyat yang terjadi di Jogja pada bulan Mei 2006 lalu.

Kenapa aku membebaskan mereka? Dalam keriuahan Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, tradisi lisan mengakar demikian kuat di masyarakat. Tradisi lisan itu berkembang selama berabad-abad dalam bentuk dongeng yang dituturkan secara turun temurun. Di beberapa tempat lain seperti di Sumatera, tradisi lisan itu, selain muncul dalam bentuk dongeng, juga muncul dalam bentuk lain yang kita kenal dengan sebutan pantun. Ada banyak keragaman tradisi lisan di Indonesia. Tidak mungkin merubah kultur yang hidup selama berabad-abad itu dalam waktu yang pendek, apalagi dalam sekali workshop. Karena itu aturan ke-indonesiaan tentang bahasa yang baik dan benar, tidak diberlakukan dalam workshop, meski dalam workshop tingkat lanjut itu mungkin dilakukan. Sebab kalau itu diberlakukan, peserta sibuk memikirkan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, peserta akan takut melakukan kesalahan dalam menulis, pekerjaan menulis jadi akan terasa berat dan hasilnya pasti menakjubkan: peserta tidak pernah menulis sepanjang workshop!

Ada banyak pengalaman berharga yang dituliskan ibu-ibu korban gempa, pengalaman yang selama ini tidak pernah dipublish di media. Pengalaman yang hanya bisa dituliskan langsung oleh korban. Ada banyak pelajaran berharga buatku. Hari pertama workshop, semua masih berjalan seperti yang kami rencanakan, termasuk ibu itu. Dia menulis meski tertatih-tatih. Pada hari kedua, sebelum workshop dimulai, aku sempat diskusi sama Eka tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

“Besok setelah makan siang, kalau dia tidak berhasil mencapai satu halaman, dia harus diwawancarai.” kataku pada Eka. “Aku sudah menyiapkan daftar pertanyaan.”

Eka mengangguk.

“Tapi kalau dia bisa mencapai target terendah, kita tidak perlu melakukan itu.”

Pada hari ketiga, hari terakhir workshop, aku lihat ibu itu sudah mencapai tiga halaman. Aku temui Agus, koordinator yang mengurus pemberdayaan ekonomi yang dilakukan ibu-ibu, sekaligus koordinator workshop penulisan.

“Mas, menurutku ibu itu tidak perlu diwawancarai.” Kataku padanya. “kalau mau diterbitkan, biarkan saja apa adanya. Paling yang perlu dilakukan editing pengulangan dan kesalahan ejaan. Kita harus menghormati dan memberi penghargaan atas usahannya untuk menulis,”

Agus setuju dengan usulku. Di akhir workshop ibu tersebut menyerahkan lima halaman tulisan tangan. Tulisannya mirip puisi. Aku tersenyum, mungkin itu tulisan terpanjang sepanjang sejarah menulis dia.

Satu hal yang coba aku lihat dari khasus ibu itu. Di dunia ini tidak ada orang yang begitu lahir langsung bodoh. Tidak ada takdir bodoh untuk seorang manusia. Tuhan juga sangat bodoh dan tidak adil kalau melakukan itu. Aku mencurigai lingkungan tempat dia hidup yang membuatnya begitu. Dari cerita Agus yang kudengar, orang-orang kampung sejak awal mencap dia tidak bisa. Cap atau stempel bahwa dia tidak bisa tersebut dilakukan terus menerus dilekatkan padanya selama bertahun-tahun. Tidak ada ruang untuk mengubah stigma buruk itu. Lama-lama ibu tersebut tanpa menyadari menikmati stigma buruk itu. Dia berlindung dalam stigma buruk itu untuk kenyamanannya karena bisa terbebas dari beban sosial yang ada di masyarakat dan menjauhkan dari tuntutan masyarakat terhadap sesuatu atau pekerjaan yang menantang untuk berkembang lebih jauh. Kalau benar itu yang terjadi, masyarakat telah melakukan dosa kolektif, tentu saja Negara juga punya andil besar dalam proses pembodohan itu. Terbukti ketika dia diberi ruang, diberi kesempatan, diberi tanggung jawab, diperlakukan adil dan tidak rasis, ibu itu bisa melakukannya. Itu menurutku, tapi kalau ada yang tidak setuju dengan pendapatku, boleh saja. Tidak dosa berbeda pendapat……

workshop penulisan ICBC

workshop penulisan ICBC

workshop penulisan ICBC

workshop penulisan ICBC

Mesin Cerpen!

Setelah Lukisan Camar dimuat, aku menjalani kegilaan yang menyenangkan.

Setiap hari aku menulis tanpa kenal waktu seperti pelintas waktu yang tersesat di gurun dan menemukan oase di tengah gurun yang membara. Setetes air adalah harapan. Setetes air adalah kehidupan. Naskah-naskah lama yang pernah ditotak dan ngendon di kamar kontrakan kubaca ulang, kuganti judulnya atau kuedit sedikit, bahkan ada juga yang tidak tidak kusentuh sama sekali, kumasukkan amplop dan kukirim kembali ke redaksi. Hasilnya, satu dua bulan kemudian naskah tersebut muncul di majalah remaja!

Setiap bukan satu dua cerpenku nampang di majalah remaja dan aku tidak lagi miskin. Aku tidak perlu minta uang sekolah pada ayah yang bisnisnya kolap untuk membayar sekolah. Sebenarnya sudah lama aku menenggarai bisnis ayah akan runtuh, bukan karena kesenangan ayah pada SDSB, bukan itu. Tapi karena bisnis itu berjalan tidak sehat. Terlalu banyak duit yang mandeg di pedagang Surabaya dan itu berlangsung selama bertahun-tahun. Tinggal menunggu waktu saja keruntuhannya. Benar saja, waktu aku masuk sekolah menengah atas, bisnis bapak benar-benar ambruk. Rumah kami disegel bank, sawah masuk ke pengadaian, beberapa keluarga pergi jadi TKI keluar negeri. Karena sejak awal aku bisa menduga nasib bisnis ayah, secara mental aku siap dengan ambruknya bisnis keluarga itu, tapi tidak dengan keluargaku yang lain. Untuk mensiasati itu, dimasa sma, aku memang menjadi loper koran untuk menambah biasa hidup dan sekolah. Kebetulan sekolahku masuk siang, jadi aku bisa melakukan kerja paruh waktu.

Awalnya sederhana, seorang tetangga kontrakanku loper koran. Aku bertanya padanya, bagimana cara jadi loper koran? Dia menyarankan aku datang ke agennya, biar dia yang mengatakan langsung pada bos agen koran. Sebenarnya tidak hanya aku yang jadi loper, ada seorang temanku yang juga ingin melakukannya. Keesokan harinya, aku berangkat bersama tetanggaku itu ke agen koran. Jadilah aku loper koran. Sementara temanku, niatnya hanya sampai pada keinginan.

Sejak itu, setiap pagi aku pergi ke stasiun kereta, ke pemberhentian bis di depan kantor pos Kepanjen, atau pasar Kepanjen, bahkan aku setiap pagi harus menumpang bis gratis bus jurusan Blitar-Gadang untuk mencapai kota Malang yang berjarak duapuluh kiloan dari kota Kepanjen untuk menjual koran.

Ada pengalaman menarik saat aku jualan koran, pagi itu saat aku masih beberapa hari jualan koran, aku melihat seorang penjual koran naik ke atas bus, membagikan koran dan berteriak-teriak membacakan headline koran. Puluhan penumpang langsung membeli korannya. Aku takjub dengan caranya, meski kadang berita yang diteriakkan tidak ada di koran pagi itu. Heheheh. Hebat juga, dia pintar penarik perhatian penumpang. Dia  tahu berita apa yang disukai pembaca. Berita pembunuhan menempati peringkat pertama, apalagi kalau itu terjadi di kota Kepanjen atau kota-kota yang berdekatan. Bisa dicoba tuh, kataku dalam hati.

Besoknya, pagi-pagi sekali, dengan semangat empat lima aku mendatangi tempat pemberhentian bis. Sejenak aku ragu saat melihat bis penuh dengan penumpang. Dadaku berdebar. Aku belum pernah jualan di bis. Setelah menimbang-nimbang, aku nekat naik ke atas bis, membagikan koran ke semua penumpang. Di ujung depan bis, saat mau membacakan headline koran, suaraku mendadak hilang. Tubuhku dipenuhi keringat dingin. Ternyata tidak gampang berbicara di depan orang banyak. Aku membatalkan niatku, kembali ke lorong bis dan mengambili koran satu-satu. Hanya dua koran terjual. Ternyata tidak hanya dibutuhkan keberanian untuk melakukan itu tapi juga mental. Sial!

Saat bis itu berlalu dan berganti dengan bis yang lain, aku masih tercekat di emper sebuah toko. Aku tidak punya keberanian melakukannya lagi. Kemudian penjual koran yang kulihat kemarin datang, dia menyapaku.

”Sudah naik bis?” tanyanya.

Aku menggeleng, ”Belum.” jawabku.

Dia meloncat masuk dan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Saat keluar dari bis, dia tersenyum padaku, ”Lumayan. Sembilan koran,” katanya sambil mengibaskan lembaran duit di tangannya. Aku memandangnya dengan lemas. Aku segera meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan menuju stasiun kereta, aku terkenang kegagalanku pagi itu.

Keesokan harinya, aku datang lagi ke pemberhentian bis. Aku belum menyerah. Aku harus menebus kegagalan kemarin. Aku naik ke bis, membagikan koran dan mulai berteriak-teriak dengan suara sember. Besoknya aku datang lagi, naik ke atas bis dan berteriak-teriak dengan suara yang lebih keras. Lama-lama aku bisa mendongeng di atas bis dan turun dengan tertawa lebar. Bahkan tidak jarang, karena numpang gratis, aku harus menggantikan peran kenek bis selama perjalanan.

Pernah juga, saat nonkrong bareng tukang becak di depan pasar Kepanjen, seorang guru bahasa Inggris melintas di depan pasar. Dia melihatku dan mendekat.

”Setiap pagi kamu jualan koran ya?” tanyanya.

Aku mengangguk, ”Ya. Beli koran dong, Bu, biar bisa membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.” todongku.

”Mencerdaskan kehidupan bangsa gundulmu!” katanya sembari tersenyum. Tapi dia membeli juga koranku. ”Mulai besok, antarkan koran ke rumahku ya?” lanjutnya sebelum pergi. Aku mengangguk senang.

Aku berjualan koran selama setahunan. Masih tertinggal segar dalam ruang ingatanku, saat hari pertama jualan koran, aku pulang dengan duit yang tidak seberapa besar di tanganku. Bahagia sekali aku hari itu. Aku menimang-nimang duit hasil kerja pertamaku itu di sepanjang jalan pulang. Aku melewati orang-orang yang berjualan buku di sepanjang trotoar. Aku melihat buku kamus bahasa Indonesia yang bersampul hitam, dengan strip putih, merah dan kuning. Tanpa mikir dua kali, aku ambil kamus itu. Kuberikan semua duitku pada penjual buku. Dalam perjalanan menuju rumah kost, aku menggenggam buku itu dengan haru dan pulang tidak membawa duit sama sekali!

Saat naik ke kelas dua dengan nilai hancur lebur, aku memutuskan berhenti jualan koran. Lagi pula itu tidak mungkin kulakukan karena sekolah masuk pagi. Padahal saat smp dulu, nilai terburukku hanya di rangkin lima, selebihnya rangking satu atau dua. Sedang saat sma, nilai terburukku ranking tujuh dalam satu kelas, itu pun dari belakang! Saat kenaikan dari kelas satu ke kelas dua, aku tidak berani pergi ke sekolah. Aku takut tidak naik kelas karena sering tidur di dalam kelas karena kelelahan dan sering tidak memperhatikan guru. Kebetulan saat penerimaan rapot, harus orang tua yang mengambil. Aku minta ayah datang ke sekolah. Aku tinggal di rumah.

Wegah aku teko nang sekolahmu maneh. Aku diseneni gurumu. Jare kowe sering turu nang kelas, sering ra ngatekke guru. (Aku tidak mau datang ke sekolahmu lagi. Aku dimarahi gurumu. Katanya, kamu sering tidur dan tidak memperhatikan guru.)” kata ayahku begitu sampai di rumah. Raport diletakkan di atas meja. Itu pertama kalinya ayah pergi ke sekolah untuk menerima raport dan hasilnya buruk.

Sampai dua hari raport itu tergeletak di atas meja, aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku takut menerima kenyataan bahwa aku tidak naik kelas. Pada hari ketiga, aku memberanikan diri menyentuh raport itu, dan membukanya dengan dada berdebar. Yang kulihat pertama kali bukan nilainya, tapi tulisan yang tertera dibawahnya. Naik ke kelas dua! Aku melonjak gembira. Aku tidak peduli ada nilai kursi terbalik. Yang penting naik kelas!

Raport memang sering bikin masalah buatku, apalagi segala sesuatu di negeri ini diukur dari statistik, dari angka-angka, termasuk dalam hal pendidikan. Nilai buruk berarti kiamat. Pada semester berikutnya, karena ayah sudah tidak mau pergi ke sekolah, aku mencari cara lain. Saat pengambilan raport, aku minta tolong pada tukang becak di depan sekolah. Kubelikan dia rokok dan kukasih duit yang tidak seberapa. Aku menulis namaku di kertas agar dia tidak lupa dan beberapa istruksi lain, termasuk kalau ditanya wali kelasku, dia harus menjawab, aku adiknya atau sepupunya. Deal! Semester itu aku sukses mengelabui sekolah. Tapi tidak pada semester berikutnya. Kurang lebih sebulan setelah liburan sekolah, aku ditegur wali kelas.

”Yang mengambil raport kemarin, bukan sepupumu ya?” tanyanya.

Aku terdiam. Bingung mau menjawab apa.

”Dia tukang becak yang biasa mangkal di depan sekolah, kan?” cecar ibu wali kelas. ”Tukang becak itu langgananku saat pulang dari sekolah. Besok kalau dia lagi yang mengambil raport, tidak akan kuberikan.” lanjutnya mengancam.

Aku tidak bisa berbohong lagi. Sudah ketahuan kadalnya. Akhirnya aku mengakui semua. Saat pengambilan raport berikutnya, aku tidak meminta siapa pun untuk mengambilnya. Padahal saat itu kenaikan kelas.

”Kenapa raportmu tidak diambil? Mana ayahmu?” tanya ibu wali kelas ketika semua raport sudah dibagikan ke orang tua murid.

”Di rumah.” jawabku. ”Apa aku naik kelas, Bu?” lanjutku bertanya.

”Naik kelas. Tapi ayahmu harus ke sini untuk ambil raport.” kata ibu wali kelas.

”Makasih, Bu.” aku mengangguk dan pamit pulang. Itu sudah cukup buatku.

Rapot tidak pernah kuambil. Setelah liburan panjang, dengan percaya diri, aku langsung masuk ke kelas tiga. Aku tidak pernah mengurus raportku sampai lulus.

Berhenti jualan koran, menulislah pekerjaanku. Setiap hari, saat malam mulai larut, aku memasang kertas pada gandaran mesin ketik. Keluarga tempat aku kost hapal benar kebiasaanku itu. Aku memberi target pada diriku sendiri, setiap minggu harus mengirimkan satu cerpen ke majalah remaja. Satu bulan aku mengirim empat cerpen. Itu hukumnya wajib. Aku menjadi mesin pembuat cerpen. Aku tidak pernah bingung lagi membiayai sekolah, menghidupi diriku sendiri dan tentu sana, membeli buku yang aku suka….

Kembali ke Aceh, kembali pada luka. Suara tangis ibu-ibu peserta workshop setahun lalu berdengung  kembali di kepala seperti suara ribut ribuan lebah. Kepalaku terasa berdenyut-denyut sakit.

Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk kembali ke propinsi paling barat itu. Dari dalam perut Garuda, aku melihat gumpalan awan seputih kapuk melayang lepas. Apakah awan itu benar-benar merdeka? Aku menengok remang-remang daratan yang berwarna hijau toska, jalan-jalan kecil berwarna coklat tanah yang melingkar-lingkar di sela perbukitan, aku mencium bau anyir darah. Sebagai daerah yang mendukung penuh kemerdekaan Indonesia dan menyumbangkan sebuah pesawat tempur, apa Aceh sudah merdeka? Apa kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah Negara diikuti kemerdekaan wilayah-wilayah yang tergabung di dalamnya? Apakah kemerdekaan itu sebenarnya?

PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita) kali ini yang mengundangku datang ke Aceh. Dalam TOR yang mereka kirimkan, akan diadakan 2 workshop penulisan selama di Aceh: pertama, workshop untuk ibu-ibu kader Aceh. Kedua, workshop untuk PL (Petugas Lapang) dan tim sekertariat Jakarta. Workshop itu diadakan di akhir musim hujan yang rentah saat jamur tanah mulai menghilang di tahun 2009.

Aku ingat percakapanku dengan tim sekertariat Jakarta dan ketua wali amanah PPSW sebelum berangkat.

“Bagaimana workshopnya nanti?” tanya Mbak Ratih. Ratih Saparlinah lengkapnya, dia koordinator program Aceh. Selain Mbak Ratih, ada Mbak Endang selaku direktur program Aceh, Mbak Enah bagian keuangan progam Aceh dan tentu saja Ibu Nani Zulminarni ketua wali amanah PPSW.

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Puluhan kali aku mengisi workshop penulisan dengan peserta orang-orang akar rumput, tapi tetap kebingungan dengan pertanyaan seperti itu. Butuh waktu tidak sedikit untuk menjelaskan. PPSW baru pertama kali mengadakan workshop penulisan, tidak salah kalau menyimpan keraguan seperti itu.

Sebelum aku menjawab, Ibu Nani dengan bijak menjelaskan bagaimana workshop penulisan dilakukan. Selain ketua wali amanah PPSW, Ibu Nani adalah direktur PEKKA, yang setahun lalu mengundang aku datang ke Aceh. Mendengar penjelasan dari Ibu Nani, tim sekertariat segera paham. Aku merasa lega.

Keluar dari perut garuda dan menyusur pintu keluar bandara Sultan Iskandar Muda, aku menoleh kanan-kiri mencari sesorang yang tidak kukenal, kata Mbak Ratih, pihak hotel yang mau menjemput di bandara. Dari Jakarta, aku berangkat bersama Hasta Indriyana. Kami menjadi pasangan yang kompak untuk workshop-workshop seperti ini. Seseorang melambaikan kertas yang bertulisan nama kami. Dia seorang sopir hotel dengan nama yang tidak pernah aku bisa mengingatnya lagi. Setelah berkenalan, kami meluncur ke Grand Nangroe Hotel.

Selalu ada tantangan di setiap workshop dan aku selalu mendapatkan sesuatu yang baru. Jujur saja, sebenarnya, dalam setiap workshop, peserta selalu memberi aku materi melimpah yang akan kugunakan dalam menulis novel. Aceh selalu menarik dan tetap sedih.

Saat makan malam, baru aku ketemu dengan panitianya. Ada bisik-bisik kudengar dari panitia, peserta workshop bertanya, fasilitatornya yang mana? Ketika panitia menunjuk kami yang sedang makan, mereka tidak percaya. Masak fasilitatornya masih muda gitu, gondrong lagi, nggak seperti fasilitator? kata mereka. Aku ketawa aja mendengar itu, masak fasilitator harus tua, rapi dan ubanan lagi.

Ada peristiwa menarik saat workshop yang dihadiri 20 orang kader dari berbagai kabupaten di Aceh itu berlangsung.

“Apakah simpan pinjam itu riba? Apa hukumnya?” tanya salah seorang peserta.

“Ya, simpan pinjam itu riba. Pak Tengku sendiri yang bilang begitu, makanya kelompok kami dibubarkan.” kata peserta lain dengan yakin.

Perdebatan itu berlangsung sengit. Semua orang mengeluarkan argumennya sendiri-sendiri. Tanpa terasa terbentuk dua kelompok besar. Satu kelompok mendukung simpan pinjam sebagai salah satu aktifitas yang riba hingga tidak boleh dilakukan, sedang kelompok lain menganggap simpan pinjam tidak riba dan boleh dilakukan karena aturan besarnya bunga yang relatif kecil itu ditentukan bersama oleh kelompok dan keuntungannya dikembalikan ke kelompok.

Program PPSW di Aceh adalah program simpan pinjam. Simpan pinjam dengan sistem bergulir sebenarnya merupakan program utama PPSW untuk membantu masyarakat ekonomi lemah, khususnya ibu-ibu. Di setiap desa dimana PPSW masuk, ibu-ibu diharuskan membentuk kelompok. Aturan main dalam kelompok dibuat dan dilaksanakan oleh ibu-ibu sendiri sebagai anggota kelompok, termasuk dalam hal simpan pinjam. Semua dilakukan berdasarkan kesepatakan bersama. Tapi memang setiap tempat punya karakter tersendiri dalam menanggapi simpan pinjam. Ada tengku, pemuka agama dan pengambil keputusan di tingkat lokal, yang menanggapi simpan pinjam yang dilakukan ibu-ibu riba, tapi ada juga yang tidak menganggap riba dan membolehkan simpan pinjam dilakukan.

Perdebatan itu berlangsung satu jam lebih dan aku membiarkannya. Seorang panitia yang khawatir mendekatiku.

“Mas, perdebatan ini dihentikan saja.” katanya.

“Biarkan saja,” kataku tersenyum. “Kita lihat apa yang akan terjadi. Aku ingin melihat sejauh mana teman-teman berpikir kritis menghadapi masalah itu.”

“Tapi sudah terlalu lama, Mas.”

Aku tertawa saja. Memang ketika perdebatan berubah menjadi adu urat, aku hentikan perdebatan itu. Aku bilang pada peserta, itu pekerjaan rumah buat mereka. Kalau ada yang bilang riba, tolong diperiksa dengan benar runtutan ayat atau hadist-nya hingga sampai pada kesimpulan riba. Jangan hanya karena tengku bilang, riba, kita langsung mengamininya. Ada banyak faktor yang perlu dilihat. Tapi karena kaidah yang dimunculkan kaidah agama, maka harus diperiksa dengan tolak ukur yang sama. Tentu dengan tidak melepaskan kontek sosial yang ada.

Aceh memang selalu menarik untuk dicermati. Pemberlakuan hukum syariat yang setengah hati, peran perempuan yang nyaris tenggelam dan dipandang tidak ada sama sekali oleh masyarakat. Entah islam sebelah mana yang diikuti Aceh? Padahal di masa lalu, Aceh memiliki perempuan-perempuan hebat seperti: Ratu Nihrasiyah, Laksamana Malahayati, Ratu Safiatuddin, Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin Syah, Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah, Ratu Kumala Syah, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren dan masih banyak lagi. Perempuan Aceh hebat tidak hanya dalam tata kelola negara, tapi juga hebat di medan pertempuran. Reputasi mereka tidak terbantahkan. Tapi pada masa sekarang, mereka tinggal nama yang hanya akan dikenang di buku-buku pelajaran sekolah dasar.

Ada apa dengan Aceh? Dalam pemahamanku, islam tidak menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Islam menempatkan semua mahluk sama dan setara. Yang membedakan hanya iman mereka. Makanya dalam sejarah islam kita bisa mengenal seorang Fatimah, seorang komandan tempur dan mengatur stategi yang hebat. Kita juga mengenal Aisyah dan dan Siti Khotijah, seorang ibu dan pendidik yang hebat di masanya. Dalam kepercayaan purba, kita menggenal Ibu atau Mother dalam istilah asing, sebagai simbolis dari kekuasaan tinggi dan dihormati. Bahkan kita tidak pernah mendengar sebutan bapak pertiwi, tapi ibu pertiwi untuk tanah air kita. Di dalam kultur jawa, kita juga mengenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. Dalam banyak kebudayaan perempuan menempati posisi terhormat.

Ada apa dengan perempuan Aceh? Aku jadi teringat Snouck Hurgronje, seorang doktor lulusan Leiden yang diberi tugas khusus untuk mepelajari dan menemukan kekuatan Aceh. Dalam Atjeh Verslag, laporan pada pemerintah Belanda, dia menulis, kekuatan Aceh karena keyakinan mereka terhadap islam. Dengan cerdik dia mempelajari islam di Aceh dengan segala pernak-perniknya. Kemudian dia sampai pada satu kesimpulan, untuk menghancurkan Aceh harus dari dalam. Dan itu berarti, islam harus dihancurkan dengan islam! Pemahaman Aceh tentang islam harus dikacaukan dengan sesuatu yang berlabel islam. Para tengku diadu domba dengan uleebalang. Snouck Hurgronje meniupkan isu yang berhak memimpin Aceh adalah para ulama, bukan uleebalang. Dia menerapkan sistem devide et impera dengan elegan dan halus. Langkah ini berhasil, terbukti dengan jatuhnya Aceh ke tangan Belanda pada tahun 1904. Aku menenggarai, apa yang berlaku di Aceh sekarang adalah hasil kerja Snouck Hurgronje yang hebat itu dan itu tidak disadari oleh masyarakat Aceh? Mungkin.

Di workshop pertama, selain menemukan ketakutan ibu-ibu dalam menulis, aku juga menemukan ketegangan yang lain. Seorang lelaki tidak dikenal datang dan bertanya padaku. Saat itu, aku sedang berada di luar ruangan untuk ngopi dan merokok.

“Ini workshop itu ya…?” dia menyebut salah satu bunyi spanduk yang dipasang di depan hotel.

“Bukan,” jawabku. “Ini workshop menulis.”

“Menulis apa?” kejarnya.

“Menulis tentang partisipasi perempuan di rana politik,” jawabku asal saja.

Dia mangut-mangut. Seharian itu datang tiga orang berbeda menenggok workshop yang sedang kami lakukan. Tolol! Aku baru menyadari kesalahan dalam menjawab. Aceh adalah daerah yang sensitif untuk hal-hal seperti itu. Pertemuan-pertemuan yang dianggap menyimpang bisa dibubarkan kelompok sparatis kapan saja. Dari cerita yang kudengar dari ibu-ibu, ada pertemuan kelompok yang dibubarkan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama. Di wilayah pedalaman, kelompok sparatis punya kekuasaan yang besar dan menakutkan. Pantas kalau dalam pemilu kemarin partai lokal menang mutlak dalam pemilu. “Saya nyontreng ditungguin orang sparatis, Mas. Bagaimana saya tidak takut, mereka membawa senjata.” tutur seorang ibu peserta workshop.

Besoknya, datang orang yang lain lagi ke workshop dengan pertanyaan mengintimidasi. Saat malam, ada orang yang berbeda datang lagi. Dia duduk di depan ruangan sebelum berpindah ke samping kolam renang. Ruangan tempat workshop kami memang berada di samping kolam renang. Sering kali dia melempar pandang ke ruang workshop dan mencuri dengar materi apa yang disampaikan selama workshop. Sialnya lagi, tidak ada orang Jakarta di workshop itu. Tim sekertariat Jakarta baru akan datang pada workshop ke dua nanti.

Keteganganku mencapai puncaknya, Hasta yang saat itu sedang mengisi acara aku minta menghentikan workshop. Dia kebingungan dengan permintaanku. Nanti aku jelaskan, kataku padanya. Setelah semua peserta kembali ke kamar untuk istirahat, aku ceritakan tentang orang-orang yang berdiri di sebuah sudut selama 2 hari workshop itu. Dia tampak kaget.

Aceh tidak pernah kemana-mana. Ketakutan menggambang memenuhi seluruh atmosfir udara Aceh. Tidak ada udara kemerdekaan di Aceh. Udara Aceh dipenuhi polusi anyir belengu dan penindasan. PPSW dan PEKKA datang dan berusaha menghadirkan secerca sinar terang bagi perempuan miskin di Aceh. Invisible power, kekuatan-kekuatan tidak terlihat masih mencengkram demikian kuat. Aceh belum merdeka. Kemerdekaan hanya imaji di Aceh dan mungkin daerah-daerah lain di Indonesia. Sebuah ironi kemerdekaan yang diagung-agungkan selama 65 tahun tidak lebih isapan jempol belaka. Indonesia telah lalai. Lalai mengurus rakyatnya, lalai mengurus kaum perempuan……

Rangkang Inong Meureunoe

Rangkang Inong Meureunoe

Rangkang Inong Meureunoe

Rangkang Inong Meureunoe

Rangkang Inong Meureunoe

Rangkang Inong Meureunoe

Bekerja dan Belajar Bersama Perempuan Aceh

Bekerja dan Belajar Bersama Perempuan Aceh

Sebuah Tekad dan Pembelajaran

Sebuah Tekad dan Pembelajaran

Leukemia

“Aku suka sama kamu.” kata gadis berambut panjang itu santai.

Aku terdiam. Sesaat semesta kata raib dari dari hidupku. Sebuah lamaran yang tidak romantis, diucapkan di dalam kelas, di tengah karnaval kebisingan suara teman-teman. Saat itu istirahat sekolah dipertengahan kemarau yang ranggas. Dia tidak sendiri waktu itu, tapi bersama temannya. Mereka kakak kelasku.

”Kau mau jadi pacarku?” lanjutnya jelas dan tegas karena aku tidak memberi reaksi apa pun. Sama sekali tidak terdengar nada main-main dari suaranya.

Aku masih diam.

”Kau mau jadi pacarku?” ulangnya.

”Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjawab sekarang.” jawabku asal saja. Aku merasa seperti orang yang tengah berhadapan dengan pisau gouletine.

Sampai seusiaku sekarang, beberapa kali aku dilamar menjadi pacar seorang gadis. Dulu, saat smp di tanah kelahiranku, tetanggaku perempuan menggantarkan surat temannya padaku. Sebuah surat berwarna pink yang wangi. Bagian sisi kertas dihiasi dekoratif kembang mawar. Sebuah tulisan rapi diguratkan di atasnya. Wangi kertas itu tertinggal dalam pikiranku sampai sekarang.

Aku membuka surat itu dengan tangan bergetar. Ribuan tornado melesak dada seperri mau menjebol paru-paru. Napasku seperti terhenti di kerongkongan. Aku ingin marah. Tapi untuk apa? Bukankah setiap orang punya hak untuk mengungkapkan perasaannya. Aku harus menghormati kejujuran dan keberaniannya. Tidak semua orang bisa melakukan itu. Aku diam, mencoba menenangkan diri.

Pelan-pelan kubuka surat itu, kubaca, lalu kusimpan dalam buku diaryku. Beberapa kali aku masih membuka lagi surat itu, tapi aku tidak pernah membalasnya. Kami masih satu sekolah, bahkan satu kelas. Aku sering bertemu dan bercakap-cakap seperti surat itu tidak pernah ada diantara kami. Dia sempat menanyakan, apa aku sudah menerima suratnya? Kujawab, ya, sudah kuterima suratnya. Bagaimana? tanyanya. Aku tidak bisa menjawab sekarang, kataku waktu itu. Sebuah jawaban standar untuk penolakan.

Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Aku masih suka mencuri pandang dengan tetangga kelasku yang manis. Kelak, aku menjalani hari-hari aneh bersama gadis manis dari kelas sebelah selama bertahun-tahun, tanpa banyak diketahui oleh teman-teman sekolah.

Selepas smp, kami berpisah sekolah. Dia sekolah di kota Turen, aku sekolah di Kepanjen, keduanya masih masuk dalam wilayah kabupaten Malang. Kami jarang ketemu lagi. Hanya pada Sabtu malam, saat aku tiba di stanplat kota Gondanglegi kami bertemu. Selama sma, aku kost di dekat sekolah, seminggu sekali aku pulang menggungjungi ke tanah kelahiran. Saat itu, kami akan melewati satu jalan menuju desa tanah kelahiranku.

Seorang gadis berdiri di sebuah sudut. Selalu begitu. Menunggu dan terus menunggu. Begitu aku turun dari angkutan, dia tersenyum, memandang begitu lama.

”Hei,” sapaku.

Dia membalas dengan senyum. Aku mencium wangi kertas surat dari senyumnya. Wangi yang tertinggal di ruang ingatanku.

”Kenapa belum pulang, nanti keburu malam?” tanyaku.

”Aku menunggumu….”

Hm. Sedapnya jawaban itu. Seorang gadis yang menunggu di sebuah sudut, begitu aku selalu menyebutnya. Kami kemudian naik satu mobil angkutan pedesaan menuju jalan pulang. Pertemuan-pertemuan pendek di hari Sabtu itu seolah telah menggenapkan hidup dan menutup setiap pekannya dengan indah. Selama tiga tahun, saat senja telah letih dan tua, aku selalu menemukan seorang gadis yang menunggu di sebuah sudut. Pada tahun 94, selepas aku sekolah, aku pergi keluyuran ke Jogja, pergi untuk tidak kembali, aku dengar kabar dari sahabatku yang juga masih saudara dia bahwa dia masih menunggu. Aku terharu mendengar itu. Sebuah penantian yang tiada berujung. Sampai sekarang, aku tidak menyesal, tidak pernah membalas suratnya. Mungkin aku jahat karena membiarkan dia selama bertahun-tahun dalam ketidakpastian. Sejujurnya, aku memang bukan orang yang baik, aku hanya orang yang belajar menjadi baik.

Aku tidak pernah bisa menjawab lamaran yang datang padaku. Kadang-kadang tidak perlu jawaban untuk setiap pertanyaan, seperti juga tidak harus menetapkan tujuan bagi setiap perjalanan. Lamaran kedua juga tidak pernah kujawab. Tapi kemudian kami jadi sering bersama-sama selama di sma, ke kantin saat istirahat atau menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan berdua. Kadang saat pulang sekolah aku main ke rumahnya. Bapak sama ibunya menyambutku dengan ramah meski aku merasakan ada yang terasa aneh. Dia pun juga terasa aneh karena seperti menyembunyikan sesuatu padaku. Dia seperti menyimpan kesedihan yang panjang. Kesedihan yang tidak pernah terkatakan.

”Aku ingin mendengar. Kalau kau percaya padaku, maukah kau berbagi kesedihan itu padaku?” kataku suatu ketika sehabis sekolah.

Dia menggeleng pasih. ”Aku tidak ingin membuatmu sedih.” katanya sambil menangis.

Aku meraih kepalanya, memeluknya, mengelus rambut panjangnya yang sehitam jelaga. ”Apakah aku tidak cukup berharga untuk mendengar kesedihan itu…..” Dia sesenggukan semakin keras.

”Dokter mendiaknosa, dia terkena leukemia. Tidak ada harapan katanya. Dia tidak ingin di saat-saat terakhir hidupnya membuatmu bersedih.” sahabatnya menerangkan padaku di suatu siang saat istirahat.

Leukemia? Ribuan ton palu godam terasa menghantam kepalaku. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan itu? Bagaimana dia bisa terkena penyakit itu?

”Kau baik-baik saja kan?” sahabatnya itu menepuk bahuku kawatir.

”Apa aku kelihatan baik-baik saja?” tanyaku balik bertanya.

Dia menggeleng.

”Apa yang harus kulakukan?” tanyaku.

”Aku tidak tahu.” dia menggeleng lagi. ”Aku cuma berharap kau bisa menjaga dia, menjaga perasaannya. Mudah-mudahan dia bisa menjalani hari-hari terakhirnya dengan indah bersamamu.” lanjutnya.

Malamnya aku tidak bisa tidur. Aku tidak peduli mesin ketik yang memanggil-manggil kangen untuk disentuh. Esoknya sepulang sekolah, aku minta dia menunggu karena ada yang harus dibicarakan. Sekolah sudah mulai sepi, ketika aku meletakkan tubuh di sampingnya di atas bangku beton yang terletak di depan kelas.

”Kenapa tidak kau ceritakan padaku?” tanyaku dengan suara serak setelah agak lama diam menguasai kami.

Bahunya terguncang, dia sesenggukan, menangis. Aku memeluknya sedih, ”Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan. Bagilah dukamu padaku.”

”Aku ingin menjaga kenangan indah ini disaat terakhir dalam hidupku tanpa kamu tahu apa yang kurasakan. Aku tidak ingin membuatmu sedih.” katanya disela sesenggukan. ”Aku ingin mati di saat segalanya masih sangat indah.”

”Tidak baik ngomong begitu…”

”Aku sudah usai, waktuku sudah begitu dekat. Aku ingin semua tetap indah sampai saat terakhir.”

”Kau seperti orang yang sudah kehilangan harapan.”

”Aku putus asa. Sudah kemana-mana bapak berusaha menyembuhkan sakitku. Tapi tidak ada hasilnya. Aku menyesal ketemu denganmu, tapi setidaknya itu penyesalan yang indah.” dia menatapku dengan mata basah.

Sampai sore kami di sekolah, tapi tidak banyak yang kami percakapkan. Kesedihan terlalu kuat menguasai kami. Sorenya, aku mengantarkannya pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung menghampiri mesin ketik. Aku menulis cerpen tentang seorang gadis yang tetap optimis menjalani hidupnya meski dia telah divonis mati karena leukemia yang dideritanya. Tokoh utamanya kuberi nama Kumala, bukan nama dia. Judul cerpen itu Lukisan Camar.

Beberapa bulan kemudian cerpen itu muncul di majalah remaja terbitan ibukota. Itu cerpen pertamaku yang dimuat di majalah nasional. Semalaman aku tidak bisa tidur memegang surat pemberitahuan yang diberikan redaksi padaku. Aku senang sekaligus sedih. Sampai sekarang dia tidak pernah membaca cerpen itu. Saat aku naik kelas tiga, dia lulus sekolah. Beberapa kali aku datang ke rumahnya selalu ibunya yang menemuiku. Ketika kutanyakan, kemana dia? Sang ibu tidak mau menjawab. Pernah juga pertanyaanku dijawab ibunya; dia tidak mau menemuimu. Tapi aku melihat mendung tebal di wajah tuanya.

Sampai aku pergi ke Jogja, aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Aku hanya berharap, semoga dia baik-baik saja. Semoga sakit yang dideritanya bisa disembuhkan. Tapi yang pasti, aku mengingat kisah kebersamaan kami dengan indah. Kenangan yang kami jalani mengabadi dalam hatiku sampai hari ini…..

Pertaruhan

Live is puzzle!

Live is game!

Hidup ini permaina, mungkin juga keisengan. Keisengan yang serius.

Aku pikir, aku sedang menghadapi puzzle raksasa di jagad hidupku. Setiap peristiwa adalah kepingan-kepingan kecil, mozaik-mozaik kecil. Kepingan peristiwa atau mozaik itu selalu berhubungan dengan mozaik yang lain. Tidak pernah ada yang terlepas. Cuma mozaik yang mana yang aku temukan pagi ini di depan pintu kamar, itu yang harus dicermati. Aku akan menyusun peristiwa-peristiwa, mozaik-mozaik itu membentuk keseluruhan diriku. Sebelum mati, aku harus menyelesaikan pekerjaan sepanjang hayat itu. Proses pencarian untuk menemukan setiap kepingan puzzle yang bertebaran di semesta, bukanlah pekerjaan yang muda. Setiap masalah yang kuhadapi, kuanggap teka-teki, misteri yang harus kupecahkan. Apa petunjuk yang kumiliki untuk memecahkan misteri itu? Mungkinkah menemukan petunjuk-petuinjuk lain yang bisa membantu memecahkan misteri tersebut? Peristiwa-peristiwa, mozaik-mozaik kecil itu akan menuntun menjawab sebuah pertanyaan besar; siapa sebenarnya aku? Apakah anda sudah mengenal diri anda sendiri?

Dalam permainan, tentu kita berhadapan dengan lawan. Lawan kita bisa siapa saja, dia bisa seorang teman, saudara, adik, kakak, ayah, musuh yang sebenarnya, atau bisa juga diri kita sendiri. Tentu dibutuhkan setrategi agar bisa memecahkan misteri yang dihadapi untuk memenangkan setiap pertarungan.

Pada tahun 1988, Belanda memenangkan piala Eropa. Rinus Michael sang arsitek pasukan orange, pasti bukan orang sembarangan. Legion Orange dengan gagah perkasa menahan gempuran pasukan beruang merah, Uni Soviet, yang super power pada masa itu, bahkan  berhasil mengalahkannya. Rinus Michael, seorang jendral legion dan pengatur strategi yang hebat. Total football yang diusungnya bersama trio Belanda, segera menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia.

Apa sebenarnya total football itu, kenapa sebagai strategi sepakbola begitu menakutkan? Seorang genius macam apa yang bisa melahirkan strategi yang luar biasa tersebut? Total football menekankan pada efektifitas setiap lini sehingga bisa melahirkan serangan ke gawang lawan menyerupai gelombang. Tidak pernah putus. Pertahanan terbaik adalahag menyerang. Dengan sistem seperti itu, jebollah gawang  Uni Soviet.

Jauh sebelum Belanda menelorkan total football pada tahun 1988, dan 1974, di timur jauh filosofi tersebut –menyerang adalah pertahanan terbaik- sudah menjadi keyakinan dan iman kelompok beladiri ninjutsu selama berabad-abad. Efektifitas menjadi dasar seni beladiri yang terkenal misterius itu. Tidak penting kemudian, apa Rinus Michael mengambil filosofi ninjutsu dan kemudian menggunakan dalam sepakbola. Yang penting adalah kesadaran bahwa dalam melakukan apa pun kita memerlukan strategi, memerlukan cara dan metode, termasuk untuk menjawab misteri yang belum terpecahkan dalam hidup.

Sebuah mesin ketik adalah sebuah tantangan kreatif yang membentang seluas semesta. Butuh sebuah strategi agar bisa bisa menempatkan mesin ketik itu sesuai dengan porsinya. Sebuah pintu telah terbuka dan memanggilku. Ayah telah memberikan kail, aku harus mempersiapkan umpan dan bekerja kerja menggunakan kail dengan benar. Semenjak aku menggalami kegilaan yang luar biasa; menulis 6 jam sehari! Mau tidur harus menulis 3 jam, sesaat setelah bangun  tidur harus menulis 3 jam. Dan itu hukumnya wajib!

Puluhan cerpen remaja segera lahir dari mesin ketik tuaku. Sejauh itu, tidak ada yang pernah dimuat. Redaksi koran atau majalah sekali mengirim surat pemberitahuan dengan permintaan maaf karya anda tidak bisa memuat. Sebuah surat klasik yang mungkin sudah ribuan kali ditulis dan dihapal mereka diluar kepala. Tapi aku tidak peduli itu, menulis telah menjadi addictive dalam hidupku. Aku harus membuat bosan para redaktur sialan itu. Aku harus menghadirkan resah pada  mereka. Aku harus menjadi gelombang yang terus menerus menghujani pantai. Bukankah pertahanan terbaik adalah penyerang?

“Tulisan-tulisanmu itu sekuler,” tegur kakakku menghentikan ketika jemariku sedang hanyut menari di atas tut mesin ketik.

Aku menoleh, menatapnya, apa maksudnya? Darahku terasa naik ke ubun-ubun. Kakakku, seorang kutu buku di rumah. Pengetahuan agama didapat dari buku-buku yang dibacanya. Dia orang yang rajin dan tekun, termasuk dalam menjalankan ritus agama. Agaknya dia mengamati apa yang aku lakukan. Dia  belajar di sma yang jauh dari rumah. Dia pulang ke rumah tiap Sabtu sore, nanti akan kembali ke sekolah pada Senin pagi. Selama di rumah, kakakku agaknya mencuri baca cerpen-cerpen yang kutulis. Diam-diam dia mengamati aktifitas yang kulakukan. Dalam banyak hal, aku sering berbeda pendapat, terutama dalam masalah agama. Dia seorang yang tekun dan taat, sementara aku cuma sekedarnya gugur kewajiban.

“Cerpen-cerpenmu sekuler dan bisa membawa pada kesesatan. Cerpenmu tidak islami.” Dia menegaskan.

“Apa yang kau maksud dengan cerpen islami?” aku balik bertanya.

“Cerita yang mengandung nilai-nilai agama.”

“Cerita yang menempelkan ayat-ayat agama di dalamnya? Seperti itu?” kejarku.

Kakakku terdiam.

“Begini saja. Aku berikan waktu 3 jam untuk menulis satu cerita.” Aku menggeser mesin ketik ke hadapannya.  “Kalau kau berhasil menulis satu cerita dalam waktu 3 jam. Aku akan berhenti menulis sepanjang hidupku. Tapi kalau kau tidak bisa menyelesaikan satu cerita dalam waktu 3 jam, kau tidak boleh mencampuri hidupku.” tantangku.

Dadu telah dilemparkan. Pertaruhan telah dilakukan. Aku tidak akan pernah mundur ke belakang. Aku tidak pernah menelan ulang kata-kataku. Sepahit apa pun konsekwensinya akan kuhadapi. Dan mungkin itu buruk. Tapi bisa jadi kemungkinan terburuk adalah jalan terbaik.

Aku meninggalkan kakakku di depan mesin ketik. Aku bermain dengan teman-teman kampung. Setelah 3 jam, aku kembali ke rumah. Tidak kutemukan kakakku di depan mesin ketik. Aku mendekati mesin ketik. Sebuah kertas terselip di gandaran. Sebuah paragraf tidak selesai ditulisnya di atas kertas. Aku tertawa. Aku datangi kakakku di kamarnya dengan senyum kemenangan.

“Yok opo? Nulis kui gak gampang to?” kataku padanya.

Kakakku hanya diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaanku.

Tidak gampang menulis itu. Menulis tidak semudah membalikkan telapak tangan, bagi seorang kutu buku sekali pun. Dibutuhkan 3 jam menulis sebelum tidur, 3 jam lagi menulis setelah bangun tidur, itu hanya untuk membangun kebiasaan dan disiplin menulis.

Aku tahu, seorang penulis profesional bisa menyelesaikan sebuah cerita dalam sekali duduk. Sekali duduk, kira-kira 3 jam, bisa diselesaikan sebuah cerita sederhana sepanjang 3 sampai 5 halaman. Sejak awal aku juga tahu, kakakku tidak akan bisa menyelesaikan satu cerita dalam sekali duduk. Tapi kesombongan dan rasa gengsi memakannya. Dia belajar membaca sebelum aku membaca, dia menjadi kutu buku sebelum aku menjadi kutu beneran… Dia tidak akan mau dikalahkan adiknya sendiri. Yang dia tidak tahu, menulis berbeda dengan membaca, menulis butuh latihan terus menerus untuk membuatnya menjadi mahir.

Apakah kakakku menyerah setelah pertaruhan itu? Tidak! Saat aku sekolah di sma yang sama dengannya, sedang kakak kuliah di Jakarta, setiap bulan aku dikirimi majalah Sabili. Majalah tersebut dialamatkan ke sekolah. Mungkin biar aku semakin islam. Sayangnya, aku tidak pernah tahu kapan majalah itu datang. Biasanya seorang teman yang suka dengan majalah islam itu datang padaku, “Kau dapat kiriman majalah Sabili, aku pinjam dulu, ya, nanti kalau selesai, aku kembalikan padamu.” Dia meminta ijin.

Aku mengangguk. Majalah itu kemudian berputar terus, dari tangan ke tangan, dan tidak pernah kembali padaku. Bahkan kapan langganan itu dihentikan, aku juga tidak pernah tahu. Itu tidak jadi soal buatku, yang penting majalah itu bermanfaat, setidaknya buat teman-temanku. Satu hal yang kakakku tidak tahu, aku punya hitungan, aku punya strategi sendiri  saat dadu kulemparkan ke arena permainan. Ketika dia masuk ke arena permainan berarti dia terpancing. Aku tahu posisiku berada dimana saat itu. Dan sampai seusiaku sekarang, aku tidak pernah ingin mengatakan strategi itu padanya. Tidak. Tidak akan. Sebab jauh lebih penting memecahkan puzzle dalam semesta hidup dan menemukan kepingan-kepingan kecil yang akan menggenapkan hidupku. Sebab aku ingin memahami diriku secara utuh sebagai manusia.

Rifka Anisa 2008.

Sepagi itu, aku mencapai kantor dengan warna krem itu. Terletak di seputar persawahan di bilangan utara Jogja. Beberapa hari lalu, Adit, koordinator media kalau tidak salah, menelpon aku.

“Waktunya cuma tiga hari, Mas, bisa nggak?” tanyanya meminta kepastian.

Padahal durasi workshop yang kuajukan selama lima hari. Menurutku, ziarah ingatan sederhana dengan ketenangan terjaga akan berjalan maksimal dalam durasi waktunya lima hari.

“Itu pun hanya bisa dilakukan selama waktu kerja.” tambahnya.

Sejak awal aku bisa maklum itu, kadang kita tidak bisa mendapatkan kondisi ideal. Tapi tidak lantas harus surut ke belakang. Seorang fasilitator harus paham dengan kondisi tidak ideal tersebut. Dia harus elastis. Dia harus bisa beradaptasi dengan keadaan, beradaptasi dengan tingkat pendidikan peserta yang beragam. Tentu saja, dia juga harus bisa menggunakan hal-hal atau benda-benda di sekitarnya sebagai media. Misalnya, ketidakbisaan peserta dalam menggunakan computer, tidak lantas mengubah workshop penulisan menjadi workshop pengenalan computer. Bisa jadi setiap tempat akan membutuhkan metode yang berbeda dalam workshop penulisan. Untuk itu kemampuan mengelola ruang mutlak diperlukan untuk mengatasi situasi-situasi tertentu. Aku selalu menyimpan tiga planning dalam setiap workshop. Bila plan A tidak berjalan, harus segera dipindah ke plan B. Bila plan B gagal harus digunakan plan C. Bisa jadi kemungkinan terburuk adalah jalan terbaik. Tapi aku tidak pernah menggunakan plan C karena plan A dan plan B sudah bisa mengatasi masalah yang muncul selama workshop.

“Gimana bisa, Mas?” Adit minta kepastian.

“Bisa.” jawabku.

Di lantai dua ruang pertemuan Rifka Anisa kemudian aku berdiri pagi itu. Ada sepuluhan peserta yang rata-rata berpendidikan S1 psikologi dam hukum duduk manis dan berharap-harap cemas semoga workshop tidak membosankan. Selalu ada tantangan baru setiap menghadapi peserta baru, dan tentu saja petualangan baru.

“Selamat datang di keajaiban dunia kata-kata,” kataku membuka hari yang indah itu. “Aturan pertama dalam workshop ini adalah tidak ada aturan. Jadi yang tidak ingin menulis, boleh meninggalkan ruangan ini.”

Untuk mensiasati waktu, materi dipadatkan menjadi hanya satu hari, dua hari sisanya digunakan untuk menulis. Ya, dua hari penuh waktu untuk menulis. Itu pun sebenarnya tidak bisa dikatakan dua hari. Beberapa peserta ijin keluar karena ada client datang dan membuat pengaduan kasus yang dihadapinya. Sebagai workshop dasar memang tidak bisa dikatakan sempurna, meski target tulisan diakhir workshop berhasil dicapai.

Orang sering berpikir, workshop beberapa kali pertemuan bisa membuatnya menjadi master, menjadi empu penulisan. Tentu saja itu mustahil dicapai. Itu anggapan yang keliru. Untuk menjadi mahir diperlukan latihan terus-menerus. Tidak diperlukan bakat khusus dalam menulis, tapi diperlukan kerja keras; latihan, latihan dan terus latihan

Workshop penulisan hanya media untuk membuka pintu. Selanjutnya terserah peserta. Ada yang kemudian memang berniat menulis dengan serius, tapi tidak sedikit yang hanya gugur kewajiban. Workshop selesai, ya selesai sudah. Dalam workshop, sesi penulisan selalu memegang porsi yang besar. Itu untuk membiasakan peserta menulis dan membangun keyakinan, sebenarnya menulis itu pekerjaan yang gampang. Hanya butuh fokus dan menyempatkan waktu untuk melakukannya. Musuh paling besar dari menulis –mungkin semua pekerjaan- adalah malas. Malas mengingat atau karena peristiwa itu terlalu menyedihkan, jadi orang malas menghadirkan lagi kenyataan itu.

Ada beberapa catatan menarik dari workshop konselor Rifka Annisa, konselor menghadapi banyak sekali kasus. Dalam satu tahun, seorang konselor bisa menghadapi lima kasus lebih; mulai kasus pemerkosaan sampai kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan dalam proses penyelesaian kasus tertentu. Ketika ada pertanyaan muncul, kasus mana yang paling menarik untuk diceritakan? Peserta workshop kebingungan. Seringkali banyaknya persoalan yang dihadapi dan harus diselesaikan, orang jadi kehilangan jarak. Mana kasus menarik yang membuat orang bisa belajar dari kasus itu agar tidak terulang lagi. Tahap-tahap penyelesaikan kasus memegang peran penting, termasuk tahap-tahap atau langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan agar korban memperoleh keadilan dan itu membutuhkan detail.

Sebagai ajang meretropeksi diri, melakukan evalusi, melakukan dokumentasi yang bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran, workshop penulisan konselor menempati peran menarik dalam konteks itu. Tentu saja yang tidak bisa diabaikan, workshop penulisan adalah ziarah ingatan sederhana dan perjuangan melawan lupa.

Memoar Pendamping

Memoar Pendamping

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.